Semua aku lakukan untuk Ayahku, bahkan mati pun aku rela. Karna aku sadar tanpanya aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Bangga ini darinya, sakit ini pun darinya. Tak bisa aku berkata jangan untuk sesuatu hal yang tak aku suka untuknya. Sedemikian sayangnya aku pada Ayahku sehingga hidupku ini akan aku persembahkan hanya untuk Ayah.
Ayah pernah bilang diriku adalah hartanya yang paling berharga, tanpaku Ayah tak akan bisa hidup dan lebih baik mati, setidaknya itu yang aku dengar dari mulutnya sendiri. Dari semua sikap Ayah yang membuatku bangga membuat Aku ingin selalu dekat dengannya, hal ini membuat aku mulai lupa dengan sosok ibu dalam hidupku, dan lebih dekat dengan Ayah.
Tapi itu dulu. Sekarang sikap Ayah padaku jauh berbeda dengan Ayah yang ku kenal dulu. Ambisinya membentukku menjadi pribadi yang sempurna tak ayal membuatku ingin melawan. Semua yang dilakukan Ayah sungguh jauh berbeda dengan yang dilakukannya sekarang. Dan aku mulai merasa dia bukan Ayahku.
Masa remaja aku habiskan untuk membahagiakan Ayah dengan selalu menuruti semua petua dan nasehat-nasehatnya. Aku dididik dengan keras dan menyiksa batin. Walau sakit aku akan tetap terus bertahan karna aku sayang Ayahku.
Aku mulai ingin hidup normal seperti anak-anak yang lain, ayahku mulai sadar akan hal itu. Segala petua dan nasehat-nasehatnya pun muncul kembali agar aku merubah sikapku menjadi seperti semula. Sungguh ajaib, semua itu justru lewat begitu saja. Tak ada satu pun keinginan untuk melakukannya. Hidupku adalah hidupku matiku pun juga matiku, aku akan pasti bisa memutuskannya sendiri.
Untuk Ayahku…
Aku memuliakanmu lebih dari manusia mana pun. Darahmu adalah darahku, namun juangmu bukanlah juangku. Biarkan aku bertahan dalam kegelapan sendirian. Karna ku bukan lagi sepotong lilin kecil yang akan mudah hancur. Ku tlah menjadi lampu listrik berkekuatan ekstra. Dan akan hidup dengan energy abadi. Tak akan hancur seperti dulu. Bebaskan aku… Aku tak pernah ingin hidup selalu dalam ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar