Rabu, 27 Juli 2011

Kekuatan Motivasi

Saya meyakini kebanyakan orang sebenarnya tahu apa yang harusnya dilakukan untuk meningkatkan kehidupan mereka. Sebagian dari mereka juga mungkin tahu apa yang harus dikerjakan untuk meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan kalau Anda coba bertanya pada orang-orang yang ada di pinggir jalan, “Kira-kira apa yang harus dilakukan untuk dapat meraih keberhasilan?” maka saya yakin kemungkinan besar Anda bisa mendapatkan jawaban yang benar. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah mengapa mereka sendiri tidak melakukannya? Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya motivasi atau ketidakmampuan untuk memotivasi diri sendiri.

Inilah yang menjadikan motivasi adalah bagian penting dalam suatu pencapaian khususnya dalam berbisnis. Karena semakin besar suatu pencapaian bisnis yang diinginkan, maka semakin besar pula motivasi yang dibutuhkan. Motivasi diri yang akan mendorong Anda untuk memulai dan melakukan suatu tindakan. Selain itu juga motivasi menciptakan daya gerak yang tidak kelihatan namun begitu dahsyat. Sebagai contoh, pernahkah Anda bayangkan betapa kecilnya hal yang diperlukan untuk mencegah suatu kereta api yang belum dijalankan agar tidak bergerak? Cukup hanya dengan meletakkan sepotong balok kayu setebal 10 cm di depan masing-masing roda maka kereta api sudah dapat tidak bisa bergerak. Namun jika kereta api tadi sedang melaju dengan kecepatan 60 mil per jam, ia bahkan mampu menabrak tembok beton bertulang setebal 2 meter! Mungkin seperti itulah gambaran dari sebuah kekuatan motivasi.

Sabtu, 23 Juli 2011

Melatih Pikiran Bawah Sadar



Di salah satu posting blog dari Joe Vitale (salah satu narasumber di The Secret), ia mengatakan bahwa jika kita memiliki suatu goal untuk melakukan sesuatu, tapi ternyata kemudian kita melanggarnya sendiri, tebak apa yang terjadi.

Apa yang terjadi sebenarnya adalah kita melatih pikiran bawah sadar untuk tidak mempercayai diri kita sendiri. Saya sangat setuju dengan ungkapan tersebut.

Seperti yang Anda tahu, apa yang sangat berpengaruh sebenarnya bukan pikiran sadar, melainkan pikiran bawah sadar.

Kalau kita mengatakan hal kecil saja seperti “saya akan membersihkan kaca rumah besok pagi”, dan kita benar-benar melakukannya, maka kita sebenarnya melatih pikiran bawah sadar untuk mempercayai diri kita sendiri. Akibatnya, jika kita memiliki goal atau sasaran yang lebih besar di hari kemudian, maka pikiran bawah sadar kita akan lebih mudah untuk percaya karena kita sudah melatihnya dari hal-hal kecil.

Satu kasus lain yang menurut saya hampir sama adalah ketika kita menyalahkan orang lain tentang kegagalan atau ketidakberhasilan diri kita sendiri. Baik menyalahkan pemerintah, atau siapapun, atas kegagalan yang diri kita alami atau kondisi yang begitu-begitu saja / tidak ada kemajuan, menurut saya ini sama saja dengan melatih pikiran bawah sadar kita sendiri untuk selalu menghindar dari tanggung jawab.


“If you blame others for your failures, do you credit them with your success?” - Anonymous

Entah siapa yang mengajukan, tapi pertanyaan bijak di atas sepertinya sangat cocok.

Contohnya, orang sering menyalahkan pemerintah atas kegagalan diri mereka sendiri atau kondisi yang tak kunjung berubah. Tapi jika mereka mendapatkan keberhasilan atau kesuksesan, apakah mereka mengatakan bahwa ini berkat pemerintah?


Kemungkinan tidak.

Siapa Bilang Memberi Lebih Baik Daripada Menerima?



Ok, Nabi Muhammad mengatakan seperti itu (tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah). Bukannya saya menentang, justru saya menulis ini karena saya setuju. Saya sebenarnya teringat salah satu pernyataan T. Harv Eker dalam bukunya, Secrets of the Millionaire Mind.

Harv mengatakan di bab "Wealth File #10" bahwa orang kaya adalah penerima yang bagus, dan orang miskin adalah penerima yang buruk. Memang saya setuju dengan pernyataan tersebut.

Idenya adalah bahwa orang kaya percaya bahwa diri mereka berharga (worthy) dan berhak menerima kekayaan, sementara orang miskin takut dan merasa tidak berharga (unworthy) sehingga mereka tidak berhak menerima kekayaan.


Contohnya, orang miskin ketika dipuji secara tulus mereka justru merasa tidak layak. Mereka juga tidak berani mematok harga tinggi untuk apa yang mereka berikan, bahkan jika apa yang mereka lakukan memang layak diberi harga mahal.

Tapi, lebih lanjut Harv mengatakan bahwa pernyataan "memberi lebih baik daripada menerima" adalah pernyataan yang salah yang diciptakan oleh mereka yang ingin agar orang lain yang lebih banyak memberi dan mereka yang menerima.

Tentu saja saya tidak setuju.

Saya lebih setuju dengan Jim Rohn. Ia mengatakan bahwa "memberi lebih baik daripada menerima karena memberi akan memulai proses menerima."

Lebih baik bukan berarti bahwa yang satu bisa ada tanpa yang lain. Dua-duanya, memberi dan menerima, sama-sama baik. Tapi menurut saya kita tidak bisa menerima jika kita tidak memberi.

Memang bisa saja pengemis terus menerima uang meski mereka tidak pernah memberi apapun, tapi seperti kata Anzia Yezierka (penulis dari Polandia), kemiskinan bisa diibaratkan sebagai sebuah kantung yang berlubang. Meski terus menerima, uang tersebut akan jatuh di tengah jalan.

"Giving is better than receiving because giving starts the receiving process." - Jim Rohn


gambar: visualphotos

17 Hal yang harus diingat


1. Jika sudah terjadi masalah, tdk harus dihindari (bingung), tapi HARUS DIHADAPI dengan tenang (dipikirkan jalan keluarnya) dan pasti selesai/ ada jalan keluarnya.

2. Menghadapi semua hal, tdk boleh berpikir negatif, seperti: "saya pasti tdk mampu", "saya tdk bisa", dan seterusnya. Tapi selalu berpikir positif, seperti: "saya bisa, pasti ada jalan keluarnya" dan lain lain.
3. Sudah dan senang semuanya tergantung pikiran saja!! ( Pikiran adalah pelopor!!). Jadi jaga pikiran kita baik - baik. Jangan pikir yang jelek/negatif. Selalu berpikir yang positif (baik).

4. Segala kesulitan/kesusahan akan berakhir. sebesar apapun masalahnya akan selesai juga dengan berjalannya waktu. Seperti pepatah mengatakan : TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR.

5. Orang yg sukses 85% ditentukan dari sikap/prilaku, 15% baru ditentukan ketrampilan. Jadi sikap kita dalam hidup ini sangat penting.

6. Segala sesuatu berubah (anicca). Kita tdk perlu susah. Misalnya : sekarang susahnya, selanjutnya pasti berubah menjadi senang. sekarang ada orang yang tdk senang pada kita, suatu saat nanti akan baik juga.

7. Hukum karma, berarti berbuat baik akan mendapat hasil baik dan sebaliknya, seperti tanam padi, pasti panen padi. Ingat!! Usahakan setiap saat selalu berbuat (tanam) kebaikan agar mendapatkan (panen) kebaikan. Jgn melakukan kejahatan. Dan jgn berharap mendapat balasan dari perbuatan baik kita!!!

8. Kesehatan asalah paling nomor satu (berhaga). Jaga kesehatan kita dengan olahraga, istirahat yang cukup dan jangan makan sembarangan.

9. Hidup ini penuh dengan masalah/persoalan/penderitaan. Jadi kita sdh tahu TIDAK MUNGKIN SELALU LANCAR/TENANG. Siapkan mental, tabah, sabar dan tenaga untuk menghadapinya. itulah kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh setiap manusia.

10. Masa depan seseorang sangat tergantung pada sikap dan buku buku yang dibaca. Jadi membaca sangat penting dan menentukan masa depan seseorang.

11. Jangan membicarakan kejelekan orang lain, karena kita akan dinilai jelek
oleh orang yg mendengarkannya.

12. Pergaulan sangat penting dan merupakan salah satu kunci sukses. Boleh bergaul dengan orang jahat maupun baik asal kita HARUS TAHU DIRI/JANGAN TERPENGARUH LINGKUNGAN. Lebih baik lagi apabila kita bisa menuntun yang jahat ke jalan yang benar.

13. Budi orang tua, tidak dapat dibayar dengan apapun juga. begitu juga dengan
budi orang2 yang telah membantu kita.

14. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan minder dengan kekurangan kita. dan jangan iri dengan kelebihan orang. HARGAILAH DIRIMU APA ADANYA!!!\

15. JANGAN MEMPERTENTANGKAN (MEMPERDEBATKAN) hal hal kecil yang tdk berguna
dengan siapapun juga.

16. Kunci sukses dlm hidup ini, selalu bersemangat, berusaha, disiplin, sabar, bekerja keras, rajin berdoa/sembahyang, banyak berbuat baik serta tdk blh berputus asa.

17. Jangan Menilai orang dari Harta(kekayaan), penampilan ataupun kondisi
fisik. Semua orang itu SAMA!!!

Jumat, 22 Juli 2011

Kaki Gunung Slamet

Pagi itu seperti biasa di kota mendoan, ramai dengan hiruk pikuk aktivitas warga kota. Jalan-jalan di kota kecil itu mulai ramai dengan ditandai dengan lalu lalangnya kendaraan yang suaranya bersaingan seperti dalam perlombaan. Pasar Wage menampilkan potret pedagang miskin yang selalu mendambakan laba, seringnya hanya mendapat tak seberapa. sedangkan di sisi lain telah berdiri bangunan megah pasar baru sebagai pengganti pasar lama yang sudah lama akan dicerai oleh pemerintah. Wajah lama pasar itu telah diganti wajah baru, barangkali sudah mengalami face off agar dapat tampil cantik yang sesungguhnya sangat menyakitkan dan merugikan pedagang kecil yang tak mampu membayar relokasi pasar baru tersebut. ”Lha wong buat makan sehari-hari saja susah, masa harus buat beli kios yang harganya jutaan” suara seorang nenek pedagang sayur bernada tinggi. Rambutnya yang tipis dan telah memutih digelung kecil. Sementara matanya cekung dan giginya mulai hilang ditelan umur.

Di sela keramaian pasar itu terlihat dua sosok pemuda yang sedang berjalan menuju seorang penjual. Mereka berhenti di hadapan seorang Pak Tua penjual jagung. ”Pak Jasim saya beli jagungnya, seperti biasa” salah satu dari mereka mengeluarkan suaranya. Pak Tua itu cuma mengangguk sambil menunjukan sekarung kecil jagung yang berada di sisinya ”Ini Mas.” kemudian salah satu dari pemuda itu memberikan beberapa lembar uang kepada Pak Tua itu. Rupanya mereka sudah lama langganan.

Suara kendaraan roda dua dan kendaraan besar semakin bising seperti serombongan pasukan lebah yang keluar dari sarangnya. Kota ini memang menyimpan berbagai kisah unik mulai dari mendoan tempe anget sebagai makanan khas dan ”mendoan” yang diperjualbelikan oleh para penghibur malam yang selalu menjanjikan kehangatan. Tentunya mendoan yang tanda kutip ini dinikmati oleh carnivora pemburu nafsu. Kota yang dulu subur, sekarang menjadi lebih subur dengan adanya semakin banyaknya tumpukan semen, beton dan batu bata yang menjelma makhluk yang bernama rumah kios ataupun kos-kosan tempat mahasiswa kumpul kebo. Banyak orang mengakui itu, modernisasi telah merenggut kenyamanan pengunjung dan penghuni kota mendoan itu.


Ada universitas negeri di sini yang seringkali terlupakan oleh masyarakat sekitar apalagi masyarakat di luar kota kecil ini. Di bawah Gunung Slamet yang terletak di bagian tengah Jawa inilah berdirilah universitas yang menyandang nama besar seorang jenderal popularitasnya juga dijadikan nama-nama jalan di kota lain. Di tempat inilah berbagai manusia ditemukan. Ada mahasiswa yang katanya sedang menuntut ilmu atau cuma menuntut uang saku untuk bisa dikatakan cool, gaul dan funky. Daerah sekitar kampus ini juga menjadi ajang bisnis yang sangat menjanjikan mulai restoran cepat sajinya Rambo ataupun Samurai hingga menjadi tempat berlalu lalangnya pengemis dan pemulung yang beroperasi siang ataupun malam di mana warga kota sedang terlelap.
*****
Warga kampus itu telah larut dalam bangku kuliah. Kampus satu dengan kampus lain rasanya tak jauh beda. Gambaran kampus terlihat dari jauh muali dari deretan parkiran sepeda motor, mulai dari scooter butut hingga motor gede. Orang desa mungkin akan mengira kalau kampus ini bukan sekolah melainkan toko motor atau dealer motor. Hanya orang-orang kaya saja yang boleh ke sana. Terlihat di ruang mahasiswa yang duduk di belakang sambil mengantuk dengan menggenggam HP (handphone) model seri terbaru dengan fasilitas kamera dengan pixel yang lumayan besar. Di sisinya duduk gadis molek dengan penampilan menor dan rambut rebonding lurus dan parfum yang baunya menusuk hidung. Jempol tangannya menekan-nekan benda kecil dengan mata yang sangat serius dan sangat tajam. Di depan ruang itu wanita gemuk pendek sedang membolak-balik transparansi mata kuliah dan sesekali mulutnya berkomat-kamit dengan suara lantang menjelaskan perihal isi dalam transparansi itu. Bu Sinta, indah memang namanya, lengkapnya Dewi Sintawati namun parasnya sangat berkebalikan dengan Sinta yang langsing dan seksi isteri Sri Ramawijaya. Bahkan rahwanapun jikalau ada tak mungkin meliriknya. Sudah gemuk, judes, mata kuliahnya membosankan, killer lagi. Lengkap sudah alasan mahasiswa untuk membenci perkuliahan ini.

Dosen wanita gemuk itu terus menerangkan mata kuliah yang diampunya. Matanya sesekali memelototi mahasiswa yang mengantuk karena dugem semalam mungkin. Bibirnya yang tebal semakin tebal dengan gincu merahnya yang juga tebal. Sudah setengah jam mungkin dosen itu ceramah di depan mahasiswanya yang sebagian besar cenderung bersikap santai dan sepertinya tak peduli. Di tengah kesibukan waktu kuliah itu dan kesibukan teman-temannya yang sedang kuliah atau SMSan ternyata ada dua orang mahasiswa yang asyik ngobrol tanpa memperhatikan dosen yang sedang berapi-api dan serius menyampaikan materi kuliah. Sosok yang pertama memakai hem kotak dengan kerah baju yang bolong bekas jahitan. Sosok yang kedua memakai baju berkerah tinggi mirip vokalis band terkenal, celana jeans bermerek Amerika terbalut sabuk bermata besar melilitnya. Rambut spike semakin menandakan bahwa dia adalah anak yang sangat gaul dan menjadi incaran gadis penggila dunia hedonis.

”Sudah sarapan apa belum Ndi?”
”Belum Rif. Belum. Nanti kalau sudah dzuhuran saja. Biasalah dengan sayur kangkung dan mendoan”. Dengan nada datar dan senyum kecil ia menjawab pertanyaan Anton teman di sampingnya. Kelihatannya kamu sekarang semakin kurus Ndi, Maaf sebenarnya kalau boleh tahu, uang kirimanmu sebulan berapa sih Ndi?”
”Hanya dua ratus ribu Rif, itupun kalau tidak telat atau kurang”
”Sebulan dua ratus ribu Ndi? Apa cukup” memandang Andi dengan mata elangnya yang tajam seakan tidak percaya. “Kalau dibilang cukup, yah memang tidak cukup bahkan sangat tidak cukup. Kamu juga pastinya sudah tahu kalau pekerjaan ayahku hanya seorang petani yang sangat pas dan hanya cukup untuk menghidupi keluarga kami dan aku juga kuliah dengan terpaksa, aku hanya modal nekad ikut SPMB sampai akhirnya aku diterima, ayahku sudah memperingatkan aku dan mengingatkanku kalau aku ingin kuliah maka aku harus terima apanya keadaannya nanti karena tidak jaminan bagiku dapat membayar terus uang kuliah dan biaya hidup di kota kecil ini yang kian meningkat”.
“Oh .... begitu. Jadi benar cuma dua ratus ribu ?” sekali lagi Anton menegaskan pertanyaannya yang sempat terjawab oleh Andi.
” Ah ... aku sudah biasa seperti ini. Aku tak tahu apakah aku akan terus kuliah atau tidak. Bapakku semakin tua dan kau sebenarnya sudah payah sekali untuk membiayai sekolahku. Sebenarnya aku ingin mandiri makanya aku berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan selama ini. Mulai dari jualan jagung bakar setiap sela kesibukan kuliah sampai aku kadangkala mengerjakan tugas kuliah teman yang lain dengan imbalan beberapa puluh ribu. Kau terpaksa melakukan itu demi aku bisa makan dan hidup di Purwokerto. Untungnya selama aku kuliah di sini aku juga terus dapat kos-kosan gratis. Semester awal aku numpang bersama Robi bule itu yang sering kau kerjakan tugas makalahnya dulu. Yah mungkin inilah hidup yang harus dijalani olehku. Tapi...aku takkan menyerah. Aku harus bisa luluskan gelar sarjanaku bagaimanapun caranya. Yah ...walaupun harus bau gosong jagung bakar. Itu lebih baik daripada aku menggadaikan pikiranku kepada teman-teman yang malas mengerjakan tugas kuliah. Dulu memang kau masih sangat payah dan tak punya prinsip mempertahankan harga diri dan prestasiku”

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Dosen yang terkenal killer ini sedang ribut memasukkan semua buku referensi kuliah dan transparansi materi kuliah yang baru saja diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa yang hanya sibuk dengan alat komunikasinya dan asyik cerita sendiri dengan teman-teman disampingnya. Apalagi jika yang kuliah satu kelas bersama kekasihnya. Seakan ruang kuliah hanya dijadikan tempat mereka memamerkan kemesraan cinta mereka seperti keintiman suami isteri yang baru saja menikah.
Salam diucapkan menutup perkuliahan siang itu. ”Selamat siang” kata ibu dosen dengan nada kaku sambil menenteng tas kulit besar yang tak bosan dibawanya setiap kali mengajar. Kuliah berakhir dan para mahasiswapun mulai berhamburan keluar dari ruang kuliah yang tadi penuh dan ribut dengan suara tawa-tawa kecil yang sering membuat dosen pengajar sesekali memberikan peringatan dan teguran. ”Mohon di perhatikan dan serius sedikitlah. Suara saya tidak sampai atau yang tak niat kuliah, silakan keluar!” mungkin itulah ungkapan yang sering dilontarkan dari mulut seorang pengajar yang mungkin sudah mulai muak dengan sikap mahasiswa yang semakin lama semakin sulit diatur dan cenderung seenaknya sendiri. Rasanya semakin tak betah saja mahasiswa mengikuti kuliahnya Bu Sinta, kampus berubah menjadi penjara setelah kedatangan Bu Sinta. Ruang kuliah adalah ruang interogasi dan ruang paksaan menjawab pertanyaan penyidik. Sungguh membosankan dan memuakkan. Rasanya ketika perkuliahan selesai ibarat narapidana yang baru saja menghirup udara kebebasan. Semua bersorak karena keluar dari ruang yang penuh horor.

Setelah perkuliahan selesai Andi langsung pulang menuju kos-kosannya. Dengan langkah yang agak berat ia berjalan menyusuri Jalan Kampus agar sampai ke tempat kosnya. Sesekali ia memandang kanan kiri. Sesekali ia menyapa dan tersenyum kepada temannya yang kebetulan berpapasan di jalan itu. Sudah beberapa minggu ia di Purwokerto lagi. Ketika di rumah ia hanya seorang anak buruh tani biasa. Ia sering berpikir kenapa bapaknya memberi nama padanya Andi, seperti layaknya nama bangsawan dari Sulawesi. Apa mungkin karena bapaknya latah ikut-ikutan memberi nama bintang film Mandarin bersama ibunya sewaktu masih pacaran dulu. Apa memang bapak ingin anaknya ingin berbeda dari yang lain. Ah...sudahlah. Apalah arti sebuah nama.

Andi masih saja menyusuri Jalan Kampus yang berdebu. Setiap langkah Andi ternyata mengantarnya menuju pikiran dan lamuan tentang masa lalu dan masa depannya. Dalam pikirannya inilah terjadi adu impian dan melawan kenyataan.
”Apakah ini fenomena yang sudah umum di setiap universitas dan sekolah menengah pada umumnya. Gejela apa sebenarnya yang sedang terjdi sekarang ini. Kenapa siswa dan mahasiswa banyak berlaku kurang ajar dan tidak tahu tata krama. Siapa yang patut dipersalahkan” Andi teringat cerita seorang dosen yang beberapa waktu yang lalu Andi kebetulan bertemu di bis jurusan Purwokerto-Cirebon ketika dalam perjalanan kembali ke Purwokerto untuk kuliah. Andi melihat sekali kegelisahan di mata seorang pria berbaju safari tua. Mata yang mulai cekung karena umur yang mulai udzur ditambah kacamata tebal yang menempel di mukanya yang mulai keriput. ”Inikah Umar Bakri ?” pikir Andi saat pertama kali melihat dan duduk bareng bersama orang itu. Suwignyo nama itu tersembul dari mulut orang itu sambil berjabat tangan erat dengan Andi. Andi agak gugup dan salah tingkah karena tidak biasanya ia berkenalan dengan orang tua ramah. Yang biasa ia temui saat perjalanan di bis hanya pengamen yang matanya merah memaksa dengan bau alkohol di mulutnya atau kalau tidak, ia hanya mendapatkan beberapa orang pengemis yang menjajakan anaknya yang digendong dengan kain lusuh. Ia beberapa kali melihat pengemis perempuan yang menggendong anaknya yang matanya masih lugu dan lucu. Sambil menengadahkan tangannya dan bermuka memelas entah disengaja atau memang jujur, ia meminta sedikit uang untuk sekedar makan katanya. Padahal orang duduk di jok sebelah jok Andi menggerutu ketika melihat pengamen dan pengemis dalam bis. ”De..Mereka itu penghasilannya lebih banyak daripada saya”. Andi saat itu hanya tersenyum. Mungkin senyum itu tanda persetujuannya.

Andi masih teringat peristiwa uniknya dengan Pak Suwignyo, dosen tua yang belum pensiun. Andi tak mengira kalau orang yang tampangnya biasa-biasa saaj itu pernah jadi dosen. Yah..mungkin dosen tidak harus ganteng dan cantik seperti artis. Andi masih ingat benar cerita hidup dari Pak Suwignyo, jarang andi menemui seorang intelektual yang seramah itu di kampusnya. ”Saya dulu itu kuliah di Yogya waktu itu masih sangat jarang orang kuliah, mungkin satu desa hanya saya dan anak lurah yang kuliah. Orang desa mana tahu namanya kuliah, yang mereka tahu hanyalah bisa makan dan bekerja di sawah. Sederhana memang kehidupan mereka, Bapak saya dulu juga seorang petani, saya sempat dilarang untuk sekolah terus. Kata mereka buat apa sekolah toh nanti gajinya kecil mendingan kamu bantu Bapak di sawah. Itu kata Bapak saya yang memang lugu dan buta huruf. Tapi saat itu saya memang termasuk anak bandel dan nekad, saya bilang pada Bapak bahwa saya akan pergi ke Yogya menemui Pak De di sana” Pak Wignyo bercerita. Semetara andi yang mulai bersandar di jok bis karen amulai mangantuk. Lampu dalam bis yang remang-remang membuat Andi semakin terkantuk-kantuk. Tapi ia mencoba untuk mendengarkan seorang tua itu bercerita. Sesekali Andi manggut-manggut sebagai tanda persetujuan. ”Saya dulu kuliah di Yogya sambil berjualan koran, bapak saya di desa tak peduli dengan saya.mungkin baru setengah tahun dia menemui saya di Yogya. Ia bertemu dengan Pak De yang pekerjaannya berdagang nasi rames di sekitar kampus saya kuliah. Yah saya nunut Pak De, ya ikut makan ya ikut numpang, mau bagaimana lagi” Pak Wignyo melanjutkan ceritanya. Setelah bercerita panjang lebar mengenai hidupnya sewaktu muda dan perjuangannya untuk menjadi dosen di Purwokerto. Perlahan orang tua itupun mulai menyandarkan lehernya kemudian tertidur pulas di pundak kanan Andi. Peristiwa itu tak pernah dilupakan oleh Andi sampai ia tiba di terminal Purwokerto yang baru.
*****
Andi dan Tono sebenarnya sama-sama mahasiswa yang kuliah di sebuah kampus di Purwokerto. Mereka berdua tidak ada bedanya dengan mahasiswa yang lain. Sama-sama mempunyai KTM, kartu perpustakaan, membayar SPP, mengikuti kuliah dan ujian sesuai jadwal universitas. Andi dan Tono juga sama-sama lelaki, mereka bukan pasangan homoseksual, secara seksual mereka normal seperti mahasiswa lain. Artinya Andi dan Tono juga normal juga ketika mereka mencintai mahasiswi di kampus. Namun memang entah mengapa ada yang menjadikan berbeda dari mereka walaupun sama-sama manusia dan mahasiswa yang sedang berkuliah.

Kuliah sudah berjalan beberapa minggu setelah liburan Idul Fitri dilalui para mahasiswa dengan pulang ke rumahnya masing-masing. Aktivitas kuliah di mulai lagi, berbagai geliat mahasiswa dengan bermacam-macam gaya pakaian terpasang. Suasana kampus sekarang ibarat suasana fashion show, berbagai model rambut, baju, tas muka dan lenggak-langgok mahasiswa tak kalah bagusnya dengan peragawan dan peragawati di catwalk. Andi mungkin salah satu mahasiswa yang paling ketinggalan dalam hal berpakaian dan gaya. Ia tak pernah memikirkan apa itu pakaian modis. Ia hanya berpikir bagaimana agar ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari dengan mencari penghasilan tambahan, ia tahu kiriman orang tuanya di Cirebon tidak dapat dijadikan andalan utama. Ia kuliah di pagi hari dan di malam hari ia bersama temannya Tono yang senasib dengannya, berjualan di pinggiran Jalan Kampus yang ramai dengan lalu-lalang mahasiswa yang biasanya sedang mejeng dan berjalan-jalan bergandengan untuk makan-makan dengan pacarnya.

Sore itu Andi seperti biasanya di kos-kosan kecilnya, ia mempersiapkan persiapan bahan dan alat untuk berjualan jagung bakar. Ia mengangkat karung kecil beirisi jagung manis yang dibelinya tadi sore di Pasar Wage. ”Ton, arang sudah siap belum? Jagungnya sudah siap nih. Aku berangkat dulu yah.” Andi memanggul karung kecil berisi jagung dengan tangan kanannya sambil membawa tempat pembakaran jagung yang terbuat dari seng. ”Yah Ndi aku sedang buat bumbunya dan kipas dan arangnya akan aku bawa nanti. Kamu duluan saja nanti aku menyusul.” Tono menjawab sambil sibuk mempersiapkan toples kecil berisi mentega, sambel dan gula sebagai bumbu jagung bakarnya. Mahasiswa di waktu siang hari dan penjual jagung bakar di malam harinya, tapi itulah mereka.
Di pinggir jalan kampus, tempat lalu lalang mahasiswa maupun masyarakat umum sekitar kampus, Andi dan Tono mulai terlihat sedang sibuk melayani pembelinya. Tono sedang mengipas-ipas arang hitam agar menjadi bara merah untuk membakar jagung bakarnya. Tangan kanannya memegang beberapa tangkai jagung dan tangan kirinya memegang kipas anyaman bambu sehingga bara itu semakin lama semakin memerah api. Sementara Andi sibuk menguliti jagung. Diolesinya jagung itu dengan bumbu buatannya sebelum diserahkan ke Tono untuk dibakarnya. Sesekali Tono menyeka keringat di keningnya agar tidak menetes ke jagung bakarnya. Kebersihan itu pangkal dari lakunya dagangan. Pelayanan kepada pelanggan adalah harus diutamakan. Bergantian mereka membakar. Setelah Tono capek membakar Andi menggantiya. Mereka rekan kerja yang baik.
”Sudah malam Ndi. Ayo pulang dulu”
”Tanggung Ton, sebentar lagi barangkali ada yang mau beli lagi. Kan biasanya kalau malam ada yang mau cari makanan ” kata Andi menjawab ajakan Toni untuk pulang. ” Ndi, katanya kamu besok kamu kuliah pagi. Kalu aku sih agak siang, biarlah toh kita sudah dapat untuk makan besok. Ingat jaga kondisi kita” Tono membujuk Andi dengan meyakinkan dan serius.

”Ya, sudahlah Ton kita pulang saja sekarang. Memang kalau mau lihat kebutuhan kita yang terus bertambah kita harus bekerja keras tapi benar kata kamu kita juga harus menjaga tubuh kita dan kuliah kita. Jangan sampai kuliah kita nanti malah berantakan gara-gara mencari uang. Memang sama-sama penting mencari uang dan kuliah. Ayo kita pulang, sudah malam” Andi menyetujui ajakan Tono untuk pulang. Merekapun beranjak dari karpat tempat duduknya yang digelar. Ia mulai memebersihkan sampah kulit jagung yang telah laku dibakar. Tono mengangkat karung jagung yang sisa tinggal beberapa biji. Rupanya malam itu jagung bakar mereka laku agak banyak.
Dua pemuda itu berjalan sambil memanggul sisa barang dagangan dan perkakas dagangannya menuju kos-kosan kecil yang dihuni mereka. Setelah sampai mereka meletakkan barang bawaan mereka.” Jagungnya laku berapa Ndi ?” tanya Tono. Lumayan ton malam ini kita laku cukup banyak. Besok kita makan ayam ya. Yah minimal seminggu sekali atau dua minggu sekali kita harus makan ayam. Itung-itung perbaikan gizi. Jangan makan mendoan melulu”
”Yah setuju besok kita sehabis belanja jagung ke Pasar Wage kita makan-makan. Yah sesekali kita juga harus seperti mahasiswa kaya lah.” balas Tono sambil tersenyum. Malam itu mereka tidur nyenyak dalam satu kamar yang berisi dua ranjang. Mereka terlelap dengan mimpi-mimpi mereka untuk bisa lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana yang selama ini sedang mereka kejar dan idam-idamkan. Terbayang dalam mimpi mereka, orang tua yang memeluk mereka dengan tangis bahagia saat mereka sedang mengenakan toga baju tanda kelulusan mereka.
Namun apakah mimpi mereka akan terwujud ?

Sementara mereka hanya anak petani-petani gurem yang semakin sering gagal panen dan penghasilan mereka tak pasti, tak jarang dari mereka makannya Senen Kamis. Bagaimana mereka membiayai anak–anak mereka bersekolah. Haruskah semua anak petani yang pengin bisa kuliah harus menjadi penjual jagung bakar untuk bisa meraih gelar sarjana, sementara biaya pendidikan makin lama makin mahal. Rasanya semakin lama, semakin jelas bahwa orang miskin tak beruang tak boleh mengenyam rasa pendidikan tinggi. Orang melarat dilarang mendekati tembok kokoh kampus yang menjulang angkuh begitu tinggi. Kampus hanyalah menara gading tak tak bisa dijamah oleh para pemulung kumal apalagi gelandangan liar. Yah...pantas saja para pemulung dan pengemis amat betah, ingin berlama-lama di kampus. Memang kadangkala tak bisa disalahkan secara sepihak. Tapi memang tak pernah dijumpai di kota kecil itu para pemulung itu berdemo di depan kantor parlemen dan rektorat meminta keadilan.
Esoknya di kos-kosan kecil itu, kos-kosan Tono dan Andi.
”Ton, mandinya yang cepat ya.... aku sudah terlambat nih” teriak Andi di depan pintu kamar mandi dengan handuk di pundaknya. Tangannya menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terbuat dari triplek. Suara gedoran terasa nyaring masuk ke dalam kamar mandi.
”Yah...sebentar lagi. Aku lagi tanggung” terdengar suara dari dalam kamar mandi menyahut. Walaupun tak begitu lantang.
”cepat dong...kita kan sudah terlambat ujian nih..”
”ya...aku sedang BAB sebentar, paling aku ga mandi ko”
”ya wis cepetan bener ya...sudah hampir jam delapan nih...”

Di kampus kesibukan membagi soal ujian telah berjalan oleh petugas ujian. Mahasiswa dan mahasiswi telah berjajar duduk dengan lembaran soal di hadapannya. Terlihat ada dua tempat ujian yang masih kosong belum ditempati. Sementara di kos Tono dan Andi, kesibukan antri mandi itu masih berlangsung.
Purwokerto pagi itu amat dingin, begitu takdimnya dan tunduk pada sosok Gunung Slamet yang menjulang berada tepat di atasnya. Ibaratnya kota kecil itu adalah Kawula dan Gunung Slamet itu Gustinya. Keduanya menyatu, manunggal dalam alam yang semakin owah rusak karena ulah makhluk serakah.

Matahari terus mencoba meninggi melawan dingin pagi yang berpolusi. Seperti biasanya Jalan Kampus semakin sibuk dengan kendaraan, asap dan debu yang beterbangan semakin keras menusuk hidung yang telanjang. Langkah kaki begitu tergesa-gesa terihat ketika dua sosok mahasiswa berpakain kriting dan berambut lurus panjang melintas. Langkahnya tak karuan, menabrak kerikil-kerikil kecil aspal yang mulai berlubang. Sementara tangannya menggenggam sebendel kertas materi kuliah yang dibacanya, namun angin mempermainkan, meniup kertas itu hingga jatuh.
”aku duluan ndi, aku dah amat sangat telat”
”Tunggu Ton, tunggu aku Ton.”
Tono seakan tak mendengar permintaan Andi, ia terus saja berlari menuju kampus. Sementara andi sibuk memunguti kertas materi ujian yang jatuh berserakan di Jalan Kampus karena angin pagi yang nakal, tak pernah berperikemanusiaan. Angin yang membantu Andi untuk membakar jagung bakar tadi malam, pagi itu benar-benar telah berubah menjadi musuh bagi Andi. Angin itu telah membuat kertas andi terbang dan jatuh berserakan.

Rupanya mereka benar-benar kesiangan. Sepintar-pintarnya kucing nyolong, pasti ketahuan. Sepandai-pandai mahasiswa berdagang, pasti suatu hari kesiangan juga. Malam tadi dagangan mereka berbuah untung namun pagi itu mungkin mereka harus melahap rugi untuk ujian akhir semester yang terjadwal pukul 07.30 di ruang 4 yang berada di lantai dua bangunan pojok utara-barat Fakultas Ilmu Sosial.
Di ruang 4, jam telah menunjukkan pukul 9 pertanda waktu ujian telah berakhir padahal di kaki Gunung Slamet, musim kemarau itu belum juga berakhir.

Sabtu, 16 Juli 2011

Beda antar Cinta, Suka, dan Sayang

Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetap saja musim dingin,hanya suasananya lebih undah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis,engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,cukup dengan menutup telingga,
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,cinta itu
berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu
yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam,yaitu
rasa sayang…rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.Rasa yang tidak mudah
berubah.
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.Mau
menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.Cinta ingin memiliki,tetapi
sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia….walaupun harus
kehilangan.

Untuk seseorang yang sedang jatuh cinta….......

Mencapai potensi hidup yang maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.


* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !



( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)

Setiap perbedaan Hidup slalu ingin q abadikan!

Dari judul posting diatas, mungkin sebagian sahabat dan kawan pada penasaran, ap sih makssudnya?
Ya, perbedaan hidupku sangat beragam, mulai aku dilahirkan sampai beberapa hari lagi aku genap berumur 20 tahun,
Salah satu perbedaan yang paling berpengaruh dalam romantika hidupku yaitu cinta, dan salah satu tempat untuk kujadikan sebuah cerita ya disini, Blog ini,,,
Terkadang aku suka meneteskan air mata, teringat semua kisah hidup,,dan yang paling membuatku sangat tertekan adalah saat aku kehilangan orang yang begitu berarti, org yang sangat berpengaruh selama perjalananku, Dia pergi untuk selamanya, meninggalkan pesan kebaikan yang tidak akan pernah aku lupakan, dia saudara tertua kami,
aku tak ingin berlarut-larut dalam kisah kesedihan ini, tapi aku cukup bahagia bisa terus mengenang kehadirannya,
aku harus tegar untuk selalu bangkit, dan bertahan, ketika masalah romansa kehidupan cinta yang mengganggu, aku menemukan setitik cahaya sejuk menetes dikepalaku, dan itu tepat saat aku mengingat dia, kali ini aku harus membangun ketegaran hidupku demi semua orang yang aku sayang, dan dia, orang yang aku cintai,
ditengah kisah ini, ada yang hadir.
Saat ini, detik ini, perasaan ini, hanya untuk dia, dia ada, saat aku dalam keadaan tergoncang,
dia hadir untuk merubah hidupku, hidup yang kelam, suram, tertekan, dan memberikan warna dalam lukisan rasa,
perbedaan Kisahku yang juga sangat berpengaruh dalam hidupku, adalah dia,
perbedaan kali ini membuatku menjadi lebih bahagia, membuat hidupku menjadi jauh lebih indah, dia bilang dia mencintaiku,
aku tak ingin tau seberapa besar keyakinanya akan kata2 itu, tapi aku disini menerima dia dengan keyakinan yang tak akan ada yang meragukannya.

Aku sayang dia!

ASMA’ BINTI ABI BAKAR (THE LEADER OF MUSLIM, THE BEST DO EVERYTHING )

Writted by: lee dhya


Mungkin ini adalah takdirku… takdir yang sudah allah tetapkan untuk merubah jalan hidupku…

Jalan yang mungkin allah anggap salah,dan jalan harus aku cari jalan keluarnya,agar aku tak semakin

tersesat didalamnya.

“AUXILIA INDRIANY…SELAMAT ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG”

Sebuah pengumuman terpampang jelas di hadapanku..

“apa???? Tidaaaaakkkkk”

Kenapa allah tdak adil padaku???kenapa???kenapa ya allah????kenapa engkau pilih kasih????

Teman-temanku semuanya di terima di universitas yang besar an terkenal…kenapa aku harus disini???kenapa?????

Hanya itulah dalam benakku saat itu.tapi apa boleh buat…daripada aku tidak kuliah selama satu

tahun..lebih baik aku jalani saja…. toh ini juga universitas negeri, meskipun Islam. Kemudian aku cari tau tentang UIN Malang.

Aku tidak membaca secara teliti di pengumuman. Sekilas aku pernah membaca ada kata WAJIB MA’HAD……Apaaaaa itu Ma’had????

Aku tidak mengerti sama sekali, ya sudahlah palingan juga kayak ospek gitu. Setelah aku melakukan registrasi baru aku tahu apa itu Ma’had.

Ini tidak benar,,, ini sama sekali tidak benar. Aku di sini mau jadi mahasiswi,,, kenapa aku jadi mahasantri. Setahuku kehidupan santri sangat tidak menyenangkan. Bahkan bisa dibilang sangat menyiksa, tertekan oleh sejuta aturan. Menyebalkan,, ini benar-benar menyebalkan.

Dengan berat hati dan sangat…sangat terpaksa….aku masuk ma’had alias pesantren, ASRAMA ASMA’ BINTI ABI BAKAR.

Pertama kali aku pindahan, aku bingung mencari ke sana ke mari. Di manaaaaa itu ASRAMA ASMA’ BINTI ABI BAKAR.

Yang menyebalkan lagi, semua tulisan di sini, tulisan arab. Manaaaaa bisa aku baca. Aku kan tidak bisa membaca tulisan arab.

Aku ingat pepatah lama “malu bertanya sesat di jalan”. Aku pun putus asa untuk mencarinya dan memutuskan untuk bertanya kepada satpam di sini.

“ maaf bu… asrama Asma’ Binti Abi Bakar di mana ya?”

“ Oh….itu mbak…(sambil menunjuk sebuah gedung), yang gordennya berwarna ungu.”

“Oh…. itu…. ya sudah, trima kasih..”

“Iya…. Sama-sama..”

Ini dia…ASMA’ BINTI ABI BAKAR..gedung yang akan memenjarakanku selama 1 tahun ke depan..aku mulai medekati gedung itu.

Di depan pintu ada kakak-kakak yang berdiri di sana.menata maba alias santri yang akan masuk kesana.tiba giliranku di data.

“Hallo dik..namanya siapa?”

Ih..sok kenal banget ni orang

“Auxilia Indriany”

“Kamar berapa?”

“Lantai 3 no 34”

“OK..Silahkan masuk”

Astaga..baru hari pertama sudah menderita.gimana sama hari-hari berikutnya.???tapi ya sudahlah.aku tidak akan kalah dengan keadaan seperti ini.

“Lantai 3 kamar 34”

Akhirnya ketemu juga.tidak pernah terbayangkan sebelumnya,aku harus naik turun tangga dari lantai 3 setiap hari.ya allah cobaan apa lagi ini.

Ku buka pintu kamarku..disana sudah ada 3 teman sekamarku yang sudah datang lebih dulu.

“Hai..”

Sapa seorang darinya.

“Hai..namaku kamalia..namamu siapa?”

Ih..sok kenal banget ni orang.dari gayanya sudah keliatan norak.pake’sarung,baju kegedean,jilbab gedenya kaya’mukena.gak salah lagi…da pasti lulusan pesantre tulen…

“AUXIL”Cukup singkat jawabanku semoga dia nggak akan sok akrab lagi.

“Hai…namaku Ruroh”

Hah???Ruroh???Zaman modern gini masih ad nama seperti itu… hahahahaha

“AUXIL”

Ternyata nggak cukup 2 orang yang nanya.

“Hai namaku Inem”

Hahaha..Inem????Jangan-jangan dia inem si pembantu seksi itu…orang-orang disini aneh…semoga aku tidak seperti mereka.

Setelah merapikan barang-barang.aku langsung mencoba kasur baruku.kasur yang akan menjadi tempat bersandarku selama 1 tahun…tidak lama kemudian..datang 3 penghuni lagi.

“ASSALAMUALAIKUM..”

“LOH..Ada anggota baru disini???hai mbak namamu siapa????”

Mulai nih..mulai…

“AUXIL”

“OHHH,,…AUXIL…”

Ih nggak penting banget mereka.

“oh iya..sampai lupa memperkenalkan diri..”

Ih…sok penting banget gitu…siapa juga yang pengen tau..boda amat…mau kenal..mau nggak..terserah..NGGAK PENTING!!!!

“Aku Fisa…ini Tutus..dan satu lagi..Moi…”

“Hai…”membuat orang senang dapat pahala kan???ya sudahlah..ku balas senyum saja mereka..

Keesokan harinya kegiatan penjara,,eh..maksudnya ma’had di mulai…mulai dari tes baca al qur’an dsb.dari semua teman-teman dikamar.hanya akulah yang selalu ada dikelas bawah.bahkan sampai aku harus ikut karantina segala.selama 3 hari hanya untuk belajar membaca al qur’an.

Semua kelas yang ada disini,mulai dari tklim afkar,taklim al qur’an,sobakhul lugho dll,aku selalu ada di kelas paling bawah.maklum..aku kan tidak pernah belajar agama sebelumnya.tapi untungnya ada satu kelas yang aku ada di atas mereka yaitu kelas bahasa inggris.ya iyalah…secara aku lulusan SMA yang notabenenya setiap hari bertemu dengan bahasa inggris..

“I’M ALONE!!!!!”

Itulah yang aku rasakan disini.nobody knows…ini bukan salah mereka.bukan salah teman-teman sekamarku.akulah yang selalu jaga jarak dengan mereka.mereka selalu mengajakku ngobrol bareng,tapi aku selalu cuek dengan mereka.

“AUXIL..Sini..makan bareng ama kita”

“Iya terimah kasih”

Aku mulai mengerti…disini kita senasib..kita harus saling membantu.

Sepertinya aku sudah mulai terbiasa disini…bangun sebelum subuh,,sholat berjamaah,,mengaji,,mendengarkan ceramah,,sampai hal yang terkecil yaitu antri mandi..banyak kegiatan disini yang sangat asing bagiku.mulai dari cara berpakaian,dan bertutur kata.

Disini kita tidak hanya diajarkan tentang agama,tapi juga tentang pengetahuan,,tentu saja kita kan UNIVERSITAS NEGERI.meskipun kita berlandaskan agama,,jangan pernah meremehkan kita.wawasan dan teknologi kita tidak kalah dengan universitas yang anggap bagusn dulu.

Disini juga ada kakak-kakak pendamping yang kiya sebut musyrifah.mereka selalu setia mendampingi kita dan membantu kita dalam segala hal termasuk soal CINTA. Ya tentu saja,kami adalah remaja.jadi tidak lepas dari masalah romantika remaja.disini mungkin hanya aku yang tidak pernah curhat dengan kakak pendampingku.jadi kesannya aku itu adik yang sombong.tapi itu semua memang benar semua orang juga sering bicara seperti itu.aku memang bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain.

Setelah aku rasakan,banyak perubahan yang aku alami semenjak aku ada disini.bukan hanya aku yang merasakan tapi juga keluargaku.dulu sebelum aku ada disini aku jarang sekali sholat.sekarang aku lebih tahu sholat adalah tiang kehidupan.makadari itu harus aku tegakkan setiap hari.mungkin karena disini juga dipaksa untuk sholat berjamaah setiap hari.

Dulu aku juga tidak bisa membaca al qur’an.sekarang alhamdulliah sudah mulai lancar.karena terbiasa membaca.meskipun harus melalui karantina terlebih dahulu.dan itu merupakan hal yang memalukan bagiku.tapi tidak apa-apa toh bermanfaat buatku.

Dulu aku sama sekali tidak bisa berbahasa arab.sekarang aku mulai menguasainya.karena disini juga ada kelas khusus bahasa asing(ARAB DAN INGGRIS).bahasa inggrisku pun semakin lancar karena sering di latih.

Dan nilai plus buat ASMA’ BINTI ABI BAKAR.setiap hari jum’at,ada hari internasional.di hari itu kita wajib menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi yaitu ARAB atau INGGRIS.

Bagaimana???hebat kan kita???universitas lain belum tentu da kegiatan seperti ini.

Disini banyak yang aku pelajari.tapi yang terpenting bagiku adalah aku tahu cara menghargai orang lain.aku tidak hidup sendirian di dunia ini.aku butuh orang lain.aku takkan mampu hidup sendiri.AUXIL yang sombong dan angkuh semoga bisa lebih baik lagi.

Ketika aku pulang ke rumah,aku sadar..ada sesuatu yang hilang dariku.dia adalah keluarga baruku yaitu teman-teman dan rumah baruku.

Setiap sesuatu yang kita anggap derita belum tentu benar.bisa saja derita itu adalah jalan bagi kita untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya yang allah ciptakan untuk kita. Ini adalah jalanku.jalan yang allah pilihkan untukku.aku beruntung..sangat beruntung.tidak semua orang mendapatkan kesempatan sepertiku.