Kamis, 21 April 2011

ketika Kepercayaan di Rengguk kekuasaan


Someone once said to me, "Do what you do as long as you have the opportunity to do, do not wait until the opportunity was lost" I'm probably going to follow what people were saying, but, what if I do that violates the rules, although it is still limited to the positive. ok, I want the story, it all started when I first set my foot on the lecture bench. The name of this campus is a UN * A, located at Jl, diamond stone, Sam's Town * it, Central Kalimantan.


then I with a strong determination and spirit that is so hot, I tried to penetrate into the culture of campus life. I've thought of everything that will happen and the risk it I received afterwards. I may be very common with the World affairs lectures, activities that I want to know it all melt into a goal that I have to fulfill. when I first looked into the people who deftly places us in a decision. Because the spirit and intentions that I finally managed to blend together to adapt to the New World, I'm Amazed, at that time, there is little pride that comes within themselves when looking at the situation and condition, although out there, heard conversations about the world that I skewed this live . all it does become pertimbanganku, I was amazed because it turns out all they say is not entirely true, with a strong step and a sincere heart I began to want things that I expect. I then followed a movement election committee Chairman and Vice Chairman for the BEM period. Perhaps in part friend confused, I've just set foot on this campus, but has already become Selection committee chairman BEM, an organization that is most influential for the survival of campus, that according to them. after successfully with all the activities and events, here I began wanting to be part of this organization, because my soul is to organize, but real as I am involved in the committee does not guarantee me to be able to join with them, from here and then I changed my mind, I ilfil, I misjudged them, this organization was not fully become the most important part of my college. because after I witnessed how they compete to win, how they instill Legal Interpretation of Politics and paste in this activity, I think, no intention to continue this, from here I was disappointed to see the performance of an organization, then when I think back , I could not possibly live lecture with empty without color, without any outside activity, with no organization, I then offered to enter a Religious organizations outside the campus, but the entire contents and keep its ranks people who are influential campus. I try to accept and try again mingled with them, but in fact, I failed, not because I could not, but I'm not ready to make myself be shackled, from the beginning I knew I had to kiss this Organization type incompatibility with my soul. and sure enough, I also ilfil with this organization, though, I really hope to develop and carry out join this organization, I want to be like them, continue to produce and develop quality myself, but not that easy. and It started when power is sitting in the highest positions, and grabs, I'm sad to see this condition, is this state of a campus organization, I do not know much, but at least I understand that power does not always guarantee pleasure. These organizations at a later stage they may have to give what they have and what they can do, but the power that has blinded them to make everything that they show in vain, others may not want to know this problem, and no want to talk about things like this, because they always think and go back to their original purpose to pursue degree. that I'm confused, I always feel anxious and uneasy at this organization fails, I do not feel sorry for, I wonder to myself, I've tried to forget it, and just wanted to be a student Pure, but not impossible, this is how I, as it is, just wanted to give the best to all I meet. But I do not know, what should I Think. I also do not understand the situation today. I'm confused. 












Seseorang pernah berkata padaku, "Lakukanlah apa yang kamu lakukan selama kamu memiliki kesempatan untuk melakukan, jangan tunggu sampai kesempatan itu hilang" Aku mungkin akan mengikuti apa yang orang itu katakan, tapi, bagaimana jika yang aku lakukan itu menyalahi aturan, walaupuun hal itu masih sebatas hal yang positif. ok, aku mau cerita, semua ini berawal ketika aku pertama kali menginjakan kakiku di bangku perkuliahan. Nama kampus ini Adalah UN*A, beralamat di Jl, batu berlian, Kota Sam*it, Kalimantan tengah.


saat itu aku dengan tekad yang kuat dan semangat yang begitu membara, aku mencoba merasuk kedalam kultur kehidupan kampus ini. aku sudah memikirkan segala hal yang akan terjadi dan resiko yang akan ku terima setelahnya. aku mungkin sangat awam dengan urusan Dunia perkuliahan, aktivitas-aktivitas yang ingin kuketahui semuanya melebur menjadi suatu tujuan yang harus ku penuhi. saat pertama kali aku melayangkan pandangan ke orang-orang yang dengan tegapnya memosisikan kita pada suatu keputusan. Karena semangat dan Niatku itulah aku akhirnya berhasil menyatu membaur beradaptasi dengan Dunia Baru, aku memang Kagum, waktu itu, ada sedikit kebanggan yang muncul didalam diri tatkala melihat situasi dan kondisinya, walaupun diluar sana, terdengar percakapan-percakapan miring tentang dunia yang aku terjuni ini. semua itu memang menjadi pertimabanganku, aku kagum karena ternyata semua yang mereka katakan tidak semuanya benar, dengan langkah yang kuat dan hati yang ikhlas aku mulai menginginkan hal yang aku harapkan. Aku kemudian mengikuti suatu gerakan kepanitiaan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua untuk BEM periode selanjutnya. Mungkin sebgaian teman bingung, aku baru saja menginjakan kaki di kampus ini, tetapi sudah menjadi panitia Pemilihan Ketua BEM, sebuah organisasi yang paking berpengaruh bagi kelangsungan Kampus, itu menurut mereka. stelah berhasil dengan segala kegiatan dan aktivitas, disini aku mulai tertarik untuk menjadi bagian dari Organisasi ini, karena Jiwaku adalah berorganisasi, tapi nyatanya dengan terlibatnya aku dalam kepanitiaan tidak menjamin aku untuk dapat bergabung bersama mereka, dari sini kemudian aku berubah pikiran, Aku Ilfil, aku salah menilai mereka, ternyata organisasi ini tidak sepenuhnya menadi bagian terpenting bagi Kuliahku. karena setelah aku menyaksikan sendiri bagaimana mereka bersaing untuk menang, bagaimana mereka menanamkan Hukum Politik dan menyisipkan Interpretasi di dalam aktivitas ini, aku langsung berfikir, tak usahlah melanjutkan niat ini, dari sini aku sudah Kecewa melihat kinerja seuah organisasi ini, kemudian setelah aku memikirkan kembali, aku tak mungkin menjalani Kuliah dengan hampa tanpa warna, tanpa aktivitas luar, tanpa Organisasi, aku kemudian ditawari untuk masuk satu organisai Agama diluar kampus, tapi seluruh isi dan jajarannya tetap orang-orang yang berpengaruh dikampus. kau mencoba menerima dan mencoba lagi berbaur dengan mereka, tapi nyatanya, aku gagal, bukan karena aku tak mampu, tapi aku belum siapa menjadikan diriku harus terbelenggu, dari awal aku mengenal Organisasi ini aku sudah mencium ketidaksesuaian jenisnya dengan jiwaku. dan ternyata benar, aku Juga Ilfil dengan Organisasi ini, padahal, aku sangat berharap bisa mengembangkan dan ikut mejalankan Organisasi ini, aku ingin seperti mereka, terus berkarya dan mengembangkan kualitas diriku, tapi tidak semudah itu. dan Semua itu berawal ketika kekuasaan sedang duduk di posisi paling tinggi, dan diperebutkan, aku miris melihat kondisi ini, beginikah keadaan sebuah Organisasi Kampus, aku memang tak tau banyak, tapi setidaknya aku paham, bahwa kekuasaan tidak selamanya menjamin kesenangan. organisasi-organisasi inilah yang pada tahap selanjutnya mungkin mereka sudah memberikan apa yang mereka punya dan apa yang dapat mereka lakukan, tetapi kekuasaan yang sudah membutakan mereka membuat segala hal yang mereka tampilkan sia-sia, sebagian lainnya mungkin tak ingin mengetahui masalah ini, dan tak ingin membicarakan hal-hal seperti ini, karena mereka selalu berfikir dan kembali ke tujuan awal mereka mengejar Gelar. yang aku bingungkan, aku selalu merasa gelisah dan tak tenang saat Organisasi ini ggal, aku tidak kasihan, aku heran pada diriku sendiri, aku sudah mencoba untuk melupakannya, dan hanya ingin menjadi Mahasiswa Murni saja, tapi tak mungkin, beginilah aku, apa adanya, hanya ingin memberikan yang terbaik kepada semua yang aku jumpai. Tapi akau tak tau, apa yang harus aku fikirkan. Aku juga tak mengerti dengan situasiku sekarang ini. aku bingung.






By : Lz

Senin, 18 April 2011

Sejarah Hari Bumi atau Earth Day

Sejarah hari bumi atau Earth Day yang diperingati setiap tanggal 22 April telah banyak yang tahu. Banyak yang telah menuliskan sejarah awal mula Hari Bumi (Earth Day). Namun untuk menyambut peringatan Hari Bumi yang sebentar lagi tiba tidak ada salahnya Alamendah’s Blog kembali mengulas sejarah itu.

Sebagai mana diketahui, sejarah peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Gagasan tentang peringatan Hari Bumi mulai disampaikan oleh Gaylord Nelson sejak tahun 1969. Saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.


Gaylord Nelson, pencetus Hari Bumi

Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu sejarah mencatat jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970.

Moment ini kemudian menjadi tonggak sejarah diperingatinya sebagai Hari Bumi yang pertama kali. Tanggal 22 April juga bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) sekaligus musim gugur di belahan bumi selatan. Sejak itu, pada tanggal 22 April setiap tahunnya Hari Bumi (Earth Day) diperingati.

Sejarah mencatat, Hari Bumi merupakan kampanye untuk mengajak orang peduli terhadap lingkungan hidup. Gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi. Hari Bumi telah menjadi sebuah gerakan global yang mendunia hingga kini. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beraggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret saat di mana matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

Berdasarkan sejarah lahirnya Hari Bumi ini, tidak ada salahnya jika Alamendah latah ikutan mendukung penyelenggaraan Hari Bumi. Meskipun Alamendah sadar bahwa untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak harus menunggu datangnya tanggal 22 April.

Referensi dan gambar:
earthday.envirolink.org/history.html
www.earthday.org
www.earthsocietyfoundation.org
www.history.com/topics/earth-day
commons.wikimedia.org (gambar)

Hari Bumi

Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April secara Internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi. Dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 seorang pengajar lingkungan hidup. Tanggal ini bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan. PBB sendiri merayakan hari bumi pada 20 Maret sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari dimana matahari tepat diatas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.

Kolaborasi Gaya Hidup Remaja, Sastra, Media dan Internet

Sastra bagi remaja perkotaan bukanlah sastra yang terwakili oleh para sastrawan dari generasi Putu Wijaya sampai Linda Christanty sekalipun. Sastra bagi remaja perkotaan juga bukanlah sastra koran, majalah sastra seperti Horison, maupun jurnal-jurnal kebudayaan yang memuat cerpen, puisi, dan esai-esai serius. Sastra remaja perkotaan adalah sastra pergaulan yang terekspresikan dalam medium-medium baru yang melekat pada gaya hidup mereka. Sastra remaja perkotaan saat ini adalah sesuatu yang sama sekali terlepas dari mata rantai sejarah sastra sebelumnya. Sejarah sastra yang saya maksud adalah sejarah sastra resmi versi para kritikus, teoritisi, akademisi dan para sastrawan sendiri. Sejarah sastra resmi ini sama halnya dengan sejarah pada umumnya yang berpihak pada kepentingan kekuasaan tertentu dengan muatan subjektivitas yang juga kental di dalam historiografi-nya. Dalam konteks remaja perkotaan secara riil, sebenarnya apa yang disebut mainstream sastra itu bahkan tidak eksis. Ada gap yang sangat jauh antara sastra dan kehidupan riil remaja perkotaan sekarang.

Medium-medium ekspresi kesusasteraan dalam gaya hidup remaja perkotaan sekarang kurang lebih merupakan sebuah dekonstruksi terhadap medium ekspresi sebelumnya yang terjadi sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Pretensi menulis sebuah karya sastra tidak lagi dilandasi oleh motivasi mimpi-mimpi besar, ide-ide pemberontakan, maupun pemikiran-pemikiran jenial untuk mengubah dunia. Remaja perkotaan sekarang cukup menulis di blog mereka tentang hal-hal personal keseharian yang remeh-temeh, mengirim sms romantis pada pacarnya, atau menciptakan syair lagu cinta yang juga sederhana saja. Itulah medium-medium ekspresi sastra remaja perkotaan sekarang. Di sisi lain para penulis generasi “tua” tetap asyik dengan mimpi-mimpi, keyakinan, arogansi, dan ide-ide besar untuk melahirkan sebuah magnum opus dalam “sejarah” kepenulisan mereka. Tanpa sadar, gap yang ada semakin curam dan dalam, mengingatkan kita pada kritik-kritik berpuluh tahun silam tentang ivory tower-nya para sastrawan dan seniman secara keseluruhan.

Tentu masalahnya memang tak bisa dilepaskan dari “nilai-nilai, kriteria, teori-teori” tentang apa yang disebut dan dianggap sebagai “sastra”. Hal ini pun adalah persoalan lama yang terus menggantung tanpa penyelesaian. Bagi sejumlah sastrawan, sebut misalnya Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, atau Budi Darma, apa yang disebut dan dianggap sebagai “kriteria dan nilai-nilai” sastra adalah relatif dan subjektif. Pandangan ini memberi ruang kebebasan yang luas untuk menganggap dan menyebut apa itu karya sastra. Di lain pihak, masih banyak sastrawan dan kritikus yang berpegang pada teori-teori baku yang entah apa atau entah yang mana untuk mengategorisasikan sebuah karya sebagai “sastra”. Pandangan inilah yang kemudian mungkin membuat buku-buku semacam ensiklopedi sastra Indonesia tidak pernah lengkap dan utuh. Di buku-buku itu pastilah tidak pernah ada nama Agni Amorita Dewi misalnya, penulis cerpen remaja generasi tahun 80-an yang kerap mengisi lembar cerpen di berbagai majalah remaja dan pernah pula menjadi pemenang lomba cerber Femina. Di buku-buku itu pastilah tidak akan ada nama Raditya Dika atau Aditya Mulya, dua novelis muda masa kini yang penggemarnya menyebar di kalangan remaja perkotaan seluruh Indonesia. Dan di buku-buku itu juga tidak pernah ada nama FX Rudy Gunawan, penulis cerpen, esai, dan novel yang karya-karyanya juga kerap dimuat di sastra koran (non-Kompas) dan puluhan bukunya telah diterbitkan.

Ini adalah sebuah stagnansi yang ironis. Generasi remaja sekarang merasa tidak ada perlunya membaca karya sastra adiluhung yang tidak connect dengan kehidupan riil mereka. Telah terjadi sebuah perubahan paradigma yang tidak pernah diantisipasi oleh para sastrawan. Program sastra masuk sekolah mungkin merupakan sebuah upaya yang pernah dilakukan untuk menjembatani gap atau mencairkan stagnansi ini. Tapi karena frame yang dibawa adalah “mindset lama” dan yang dilakukan dengan “cara lama” pula, maka bisa dikatakan upaya ini kurang membuahkan hasil. Sejumlah SMA yang didatangi mungkin jadi lebih mengenal sastrawan-sastrawan dan karya-karyanya, tapi hanya sebatas itulah hasilnya. Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah menciptakan generasi baru pecinta sastra dan menumbuhkan iklim atau atmosfir yang subur bagi lahirnya generasi penulis sastra yang baru, segar, dan sama sekali berbeda.

Dalam gaya hidup remaja perkotaan sekarang, film dan musiklah yang paling populer sebagai bagian dari kehidupan kesenian dan kebudayaan mereka. Ini terbukti dari suksesnya novel-novel adaptasi film yang digagas dan diterbitkan oleh penerbit spesialis novel remaja, GagasMedia. Hampir semua novel adaptasi film-film nasional terjual puluhan ribu kopi dalam hitungan bulan saja. Genre novel ini telah berhasil menjadi bagian dari gaya hidup remaja perkotaan berkat kolaborasi antara dunia film dan dunia sastra. Kolaborasi berarti sebuah persinggungan yang nyata dengan kehidupan. Kolaborasi menjadi sebuah pola untuk mencairkan stagnansi dan melahirkan karya yang “membumi”. Sebuah contoh kolaborasi ideal dari dunia musik adalah grup rock gaek Santana yang berkolaborasi dengan penyanyi remaja popular dalam tiga album terakhir mereka yang dirilis beberapa tahun belakangan. Kesadaran Santana sebagai grup yang melegenda untuk tetap tune in dengan perkembangan zaman sungguh sebuah kerendahan hati yang patut diteladani di dunia sastra kita.

Sastra seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup remaja perkotaan karena sastra seharusnya menjadi bagian dari kehidupan nyata termasuk kehidupan sehari-hari dengan segala tetek-bengek persoalannya yang mungkin cengeng, menyebalkan, dan tidak mutu. Tapi atas dasar apa seseorang berhak men-judge seperti itu terhadap kenyataan hidup yang nyata? Atas dasar apa seseorang atau sejumlah orang berhak menghakimi sebuah karya? Tiada satu dasar pun yang bisa membenarkan sikap-sikap seperti itu. Sebaliknya, justru pengikisan terhadap sikap-sikap seperti inilah yang akan mampu mengintegrasikan sastra dalam gaya hidup remaja perkotaan.


Gaya Hidup Remaja dan Media

Semua jenis media, baik itu Internet, televisi, film, musik, maupun majalah, berpengaruh besar terhadap gaya hidup kita masa kini. Kebanyakan media menginformasikan tentang gaya hidup remaja kota, yang notabene meniru gaya hidup modern. Maka, tidak heran jika kita digiring menjadi sangat konsumtif.

Masa remaja adalah masa pencarian identitas. Kita sebagai remaja mulai mencari gaya hidup yang pas dan sesuai dengan selera. Kita juga mulai mencari seorang idola atau tokoh identifikasi yang bisa dijadikan panutan, baik dalam pencarian gaya hidup, gaya bicara, penampilan, dan lain-lain. Imbasnya banyak kita jumpai teman-teman dengan berbagai atributnya yang sebenarnya mereka hanya meniru-niru saja. Sadar tidak sih kalau saat ini banyak sekali sinetron remaja yang menawarkan life style baru? Para bintang muda yang digandrungi ternyata mampu mengubah style remaja.

Pada masa remaja pengaruh idola memang sangat kuat. Idola atau tokoh akan mengendalikan hidup kita yang mungkin tanpa kita sadari. Nah, di sinilah media

Namun, apakah benar bahwa media sedemikian buruk pengaruhnya bagi remaja? Sebenarnya tidak seratus persen demikian. Hal ini menjadi tantangan bagi kita untuk memilah-milah atau selektif terhadap pesan yang disampaikan oleh media. Karena, tidak bisa dimungkiri bahwa keberadaan media mutlak diperlukan. Karena, pada suatu sisi media memungkinkan kita untuk tahu beragam informasi, berita, penemuan, dan hal-hal baru. Atau bisa disimpulkan bahwa sebenarnya hadirnya media berpengaruh positif dan juga negatif.

Keberadaan media memang tidak lepas dari kepentingan pasar. Dengan demikian, kalau kita tidak selektif terhadap pesan media, kita akan menjadi korban media. tidak salah memang ketika kita membeli sebuah produk berdasarkan informasi dari media. Namun, yang perlu diingat, seberapa perlu produk yang kita beli itu bagi diri kita. Apakah kita memang membutuhkan produk itu ataukah karena kita terpengaruh oleh iming-iming yang disampaikan oleh media.


Remaja : Jangan memaksakan diri

tidak ada salahnya memang untuk tampil menarik seperti yang banyak diiklankan di media, dengan sebagian produk yang ditawarkan untuk membantu mewujudkan impian itu. Juga merupakan sesuatu yang wajar untuk pergi berbelanja membeli barang-barang kesukaan. Namun, yang mesti kita ingat, jangan memaksakan diri. Kalau kita ikuti perkembangan mode pakaian, misalnya, kalau tidak pantas, ya tidak usah dibeli, sebaiknya kita sesuaikan dengan diri kita. Singkatnya sih tidak harus mengikuti tren yang ada, tetapi yang penting nyaman di tubuh kita. Pokoknya yang penting kita percaya diri, nyaman dengan diri sendiri, menerima apa adanya, love yourself. Bahkan, akan lebih oke lagi kalau kita bisa menunjukkan kelebihan-kelebihan kita yang lain.

Nah, jelaskan? Media memang punya dampak positif dan negatif. Kita harus arif menyikapinya. Cara gampang adalah mengenali diri kita sendiri dan mengenali apa yang menurut kita sangat penting. Mengenali apa yang kita sukai, apa yang bisa kita toleransi dari orang lain dan hal-hal yang membuat kita merasa mantap. Kalau setelah kita renungkan semua berbeda dari apa yang benar versi media, itu artinya kita harus segera ambil strategi. So, jangan menelan secara mentah-mentah apa yang diinformasikan media sehingga tidak begitu saja menjadi korban media.

Sumber : http://www.ubb.ac.id/

Remaja dan Seks

"Remaja merupakan kelompok risiko tinggi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan serta berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Hal tersebut dijumpai pada remaja hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Studi Mengenai Perilaku Seksual Kawula Muda di empat kota besar di Indonesia, terungkap rata-rata remaja melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 18 tahun"

Demikian petikan artikel yang saya peroleh dari Kompas Online, untuk lengkapnya bisa dibaca disini. Terus terang artikel ini sangat menarik perhatian saya diantara beberapa artikel dari Kompas Online tentang kesehatan, mengapa? karena tulisan tersebut menggambarkan realita yang terjadi di lingkungan remaja tentang pengetahuan mereka tentang seks berikut kemungkinan resiko yang akan terjadi.


Dunia remaja adalah dunia yang indah demikian kata beberapa orang yang melewati masa remajanya dengan penuh kesenangan dan memori indah, namun tidak sedikit dari mereka yang melalui masa remaja dengan kesuraman dan kebingungan serta kesusahan. Salah satu penyebab kesuraman, kebingungan dan kesusahan itu adalah KTD alias Kehamilan Tak Diingini yang akan berujung pada pernikahan di usia dini dan aborsi.

Sering kita menjumpai remaja yang meninggal karena aborsi, atau bayi yang dibuang ke selokan, empang karena orang tuanya tidak siap atau malu mempunyai anak. Banyak pula remaja yang harus berhenti sekolah padahal sebenarnya mereka berprestasi hanya karena keharusan untuk menikah di usia muda. Ironisnya bila ini terjadi maka remaja itulah yang disalahkan, dicerca dan dimusuhi oleh lingkungannya padahal semua itu tidak hanya kesalahan mereka.

Sebenarnya semua kejadian diatas tidak akan terjadi atau tidak sebanyak itu terjadi jika pengetahuan tentang seks dan reproduksi di kalangan remaja mencukupi. Sayangnya proses edukasi tentang masalah tabu ini seakan akan jalan di tempat dan susah sekali masuk ke masyarakat atau dunia remaja khususnya. Para remaja lebih mudah mengakses film porno untuk dijadikan bahan belajar dibandingkan dengan ceramah atau ilmu tentang seks yang disampaikan sekolah atau LSM dibidang ini.

Kurikulum yang memasukan pelajaran tentang seks juga tidak terdengar sampai sekarang (atau saya sendiri yang belum dengar). Mungkin bagi sebagian orang tua termasuk guru, seks merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dan remaja belum sepantasnya tahu tentang ritual yang memabukan itu. Namun realita yang terjadi di masyarakat sudah sedemikian mengkhawatirkan dan perlu penanganan segera sebelum makin banyak penerus bangsa ini yang terjebak dalam permainan memabukan itu dan hancur masa depannya.

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau apapun, cuma curahan isi hati saja setelah membaca artikel dari Kompas tersebut, jadi apabila ada kata kata yang salah, mohon maaf ya…

Sabtu, 02 April 2011

Shinee-Reply