Tulisanku


Setetes Embun! (Cerpen)

                Zeylania, nama ini begitu indah untuk didengar, sangat sesuai dengan yang punya nama, Zey, gadis yang begitu ceria dalam melewati hari-harinya, cerita cinta yang menghiasinya begitu berwarna, sedih, duka, selalu ia jalani dengan ceria. Ia tak bisa menunjukan kesedihan yang ia alami, kecuali beberapa teman dekat yang pintar memahami dan begitu sering bersamanya.
Ia gadis cerdas, periang, kritis, ulet dan tak gampang menyerah. Mahasisa semester 4 jurusan Sastra Indonesia Universitas Swasta di Kota ini, terlihat selalu aktif dalam setiap organisasi kampus, selalu  berperan aktif dalam setiap kegiatan kampus, ia juga seorang penulis yang baik, penuh komitmen dan berprinsip. Tulisan-tulisannya ia tuangkan dalam situs pribadi yang dibentuknya 2 tahun yang lalu, beberapa tulisannya mendapat respon positif dari pembaca atau bahkan teman sekampusnya, tulisannya terkadang mengundang kritikan, tapi ia tetap pada prinsipnya, ia hanya mencoba menuangkan isi kritisannya kedalam situs tersebut, ia juga seorang pengarang novel yang tidak buruk,tidak hanya novel, tetapi cerpen, artikel dan beberapa tulisan keseharian lainnya. Dia tipe gadis yang penuh kreatifitas, itu terlihat dari susunan kata-kata tulisannya yang begitu menarik untuk diikuti.
Zey, berasal dari keluarga  yang serba berkecukupan, ia tinggal bersama kedua orangtuanya, dan satu adik laki-lakinya yang masih remaja. Walau sederhana ia mempunyai beberapa teman yang begitu memperhatiaknnya, walau terkadang rasa tidak nyaman selalu menghampirinya, beberapa temannya berasal dari keluarga yang sangat berada, sedangkan ia hanya biasa-biasa saja. Tapi itu tak mnyurutkan persahabatan mereka. Ia tetap berprinsp bahwa status dan materi  tak bisa menjamin segalanya. Zey terlihat nyaman dengan hari-harinya walau sebenarnya ia baru saja gagal dalam urusan asmara, dan lagi-lagi ia tak pernah menyesalkan hal itu. Ia tetap pada pendiriannya ceria, periang, kreatif, aktif, kritis dan tetap berkomitmen pada prinsipnya
Sampai pada suatu hari, seseorang hadir dalam hidupnya, seorang pria yang telah mengisi hari-harinya, membuat tawanya semakin riang, ia semakin bebas mengepakkan sayap kreatifnya semenjak Pria itu disampingnya, ia sangat bahagia, melebihi kebahagiaan yang ia dapatkan sebelumnya.
Dengan segala keindahannya Pria itu mencintainya tulus setulus hatinya, dengan segala kesempurnaannya pria itu benar-benar merubah kebahagiaannya menjadi lebih berwarna. Zey begitu mencintainya terlihat dari kesehariannya yang tak pernah lepas untuk memikirkannya.
Keromantisan yang diberikan pria itu membuat zey selalu mengingatnya, tak kan pernah melupakannya sampai kapanpun, bahkan dalam janjinya zey berucap akan selalu setia dalam cinta yang mereka bina.

Cinta itu embun,
Ia jatuh, jika tak ditampung maka akan hilang,
Cinta itu cahaya, bersinar dalam setiap kegelapan,
Cinta itu rahasia, jika kita tak pandai mengungkapnya,
Maka akan menjadi rahasia selamanya,

Itu menurut beberapa penyair, tapi menurut zey,
Cinta itu kamu
Semua yang orang bilang tentang cinta
Ada padamu
Bahkan cinta dalam hidupku
Tercipta karena ada kamu
Cinta itu kehadiranmu
Jika cinta sedang tak baik
Maka itu bukanlah dirimu
Tapi kesalahan . . .
Pengarang yang nakal, seenaknya membuat syair sesuka hatinya. Itulah Zey, tak pernah melihat suatu hal dari satu sisi, tapi dari banyak sisi dan banyak pandangan.
Seperti biasa, tak ada yang bisa membuat hidup lebih berwarna selain membahagiakan orang-orang disekitar kita.
Pagi ini Zey tak berangkat kuliah padahal dia tau masuk kuliah jam 8 pagi, dengan Dosen yang lumayan Disiplin, dia bahkan tak pernah berfikir untuk bolos dimata kuliah ini, mata kuliah yang paling ia favoritkan, Sastra Lanjutan.
Waktu menunjukan pukul 07.55 Zey tak juga datang, temannya mulai menekan-nekan keypad BB untuk menghubunginya. Tapi tak ada jawaban.
“Gimana ni si Zey, 5 menit lagi masuk, tumben-tumbenan gini dia telat” Innes menyuarakan kekesalannya,
“Gak tau gue, dia gk ngabarin apa2, Gak masuk kali” Jawab Rene
“Tapi dia gak ngasih tau kita, biasanya dia bilang?
“Ezy mana?”
“Na… satu lagi ni ilang, udah ah kita masuk duluan , keburu dosennya ngambek”
“Tapi mereka belum datang,”
“Biasanya juga mereka nyusulin kita, ayo”
“Y udah dech”
Keduanya melangkah memasuki Kelas, kebetulan Dosennya sudah melenggang menuju kelas.  Tiba-tiba…
“Inneeeessss..”Teriakkan Ezy menghentikan langkah keduanya,
“Ezy,kenapa sich datangnya grasak grusuk gitu, udah telat nich?”Sambut Innes
“Hampir, belum telat, Gue nungguin Zey biasanya kan dia jemput gue”
“La… zey nya mana, gak sama loe” Tanya Rene
Itu dia gue gak tau, tumben tu anak gak ngasih tau gue kalo gak masuk, gue kan harus bangunin si Buldog  maksa buat nagnterin gue, Handphonenya gak aktif lagi” Jawab Ezy, Buldog panggilan untuk kakak laki-lakinya.
“Ya udah dech, masuk aza dulu”
Ketiganya kemudian menduduki kursinya yang berada tak jauh dari jendela, tepatnya paling belakang. Sampai jam kuliah berakhir ketiganya masih memikirkan kenapa Zey tak memberi  kabar apapun tentang ketidakhadirannya.
Innes yang merasa teman dekatnya kebingungan, karena sampai malam tiba Handphone Zey tak juga aktif.
10.15, perlahan Innes membuka Laptop kecilnya dan  mengoperasikan Internet didalamnya, mencoba mencari tau lewat jejaring social milik Zey. Dari facebook, dinding Zey tak terlihat ada aktivitas baru dari tadi malam, biasanya ia merupakan manusia yang Update status hamper 2 jam sekali.
Innes membuka Twitternya, tak ada Tweet yang menunjukan keadaa terbaru Zey, tak ada aktivitas juga, Innes menelusuri Situs pibadi Zey, dan lagi-lagi tak ada apa-apa, comentar beberapa pembaca sengaja ia abaikan, tak ada balasan komentar darinya sejak kemarin.
Apa yang membuat Zey jadi seperti itu, tapi Innes menepis pikiran buruknya jauh-jauh, mungkin Zey memang sibuk, atau ada kerjaan yang tak bisa ditinggalkan dan tak bisa ia lepaskan. Tak masuk akal sih, tapi biarlah, mungkin besok Zey akan bilang sorry gue kemaren gak ngabarin loe, gue sibuk, gue banyak kerjaan, hp gue ilang atau hp gue drop bla bla…..
Innes memejamkan matanya.
***
Ketika cinta itu merupakan kebahagiaan
Maka kamu adalah kebahagiaanku,
Karena cinta yang aku punya
Cuma Kamu, Setetes Embun
Ketika embun yang jatuh kemudian menghilang
Maka aku akan ada untuk menampungnya
Karena Aku tak mau kehilanganmu
Setetes Embun dihatiku.
Sudah tiga hari, Zey masih tak ada kabarnya, situs pribadinya, jejaring social miliknya banyak menumpuk pemberitahuan yang belum ia tanggapi, dan tak ada aktivitas sama sekali semenjak hari itu.
Innes benar-benar bingung, siang ini sepulang kuliah ia akan mengunjungi rumah Zey, yang terletak cukup jauh dari rumahnya. Kira kira 2 kilometer mengendarai Scovy putihnya. Letak kampus  berada diantara rumah mereka, Innes mengemudikan Scovynya kencang, beberapa menit kemudian ia sudah tiba di pekarangan rumah Zey.  Pintu rumahnya terbuka, Innes kemudian menuju pintu,
“Assalamualaikum….”
Tak ada jawaban.
“Assalamualikum” Innes mengucap salam sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam…” Ada suara seorang laki-laki dari dalam rumah. Dan keluar menghampiri Innes.
“Cari siapa?” Laki-laki  itu terlihat masih remaja, mengenakan celana biru dan atasan kaos, sepertinya dia baru saja pulang sekolah.
“Saya temen kuliahnya Zey, zey nya ada?” Jawab innes, anak itu mengernyitkan dahinya, seperti keheranan.
“Bukannya mbak Zey belum pulang kuliah?” Jawabnya setelah memandang Innes heran. Innes kaget, terang saja, gimana ni anak bisa bilang kuliah, sedangkan  tiga hari ini Zey gak  nongol dikampus.”Kalo gue Tanya apakah Zey bilangnya masuk kuliah tiap hari, ntar malah ketauan kalo Zey sebenernya gak kuliah, Gue kan temennya masa masih nanya” Pikir Innes dalam hati, Bingung, dia memilih diam.
“Biasanya Zey sampe rumah jam berapa ya?”
“Sore, jam 5 an gitu, katanya ada kegiatan kampus jadi sampe sore”
Innes semakin heran, dia benar-benar tidak menemukan Zey baik dikelas atau pada saat kegiatan Kampus, dia dan Zey mengikuti Kegiatan yang sama, tidak mungkin dia tak tau.
“Oh, gitu ya, ya udah makasih ya, permisi”
“Sama-sama”
Innes berlalu meninggalkan Rumah Zey . masih dengan wajah yang heran, penuh pertanyaan,
“Sebernya si Zey kenapa dan kemana sich?” Diperjalanan Innes masih memikirkan kenapa Zey jadi begitu, bilang sama orang rumahnya kuliah, tapi gak ada dikampus, apa mungkin pindah, masa sich, tiba-tiba Innes ingat, satu-satunya orang yang harus dia hubungi adalah Devan! Scovy putih ia hentikan, dan diparkir dibawah Pohon besar dipinggiran jalan, Innes memencet keypad BBnya dan menghubungi Devan.
Beberapa saat kemudian, tak ada jawaban, atau lebih tepatnya tidak aktif.
“Lohhh,,, gak aktif juga, kenapa sich nie, bikin gue bingung aza” sedang asyik memencet  keypad tiba-tiba ada panggilan masuk,
“Kenapa Ren,,,”
“Gue dirumah loe nich” Jawab suara dari seberang sana, Rene.
“Ngapain?”
“Lah,,, kan tadi udah gue sms,kalo gue mau kerumah loe” Innes memeriksa Hpnya, memang sich dia mengabaikan pesan yang belum terbaca dikira orang lain, ternyata Rene.
“Sorry, baru liat gue”
“Loe kemana sich, nyokap loe bilang kerumah temen, temen yang mana?”
“Emmm…. Zey”
“Trus-trus gimana, Zey kenapa? Sakit ya, atau kenapa?”
“Gue ceritain dirumah dech,,, ni gue lagi dijalan pulang”
“Okey”
Innes kembali mengemudikan Scovy putihnya, melaju menyusuri jalanan besar yang dipadati kendaraan lainnya.  10 menit kemudian Innes tiba di rumahnya, Rene sedang duduk diteras gelisah menunggu Innes yang muncul dari kejauhan.
“Innesss” Sambut Rene penasaran dengan apa yang akan Innes ceritakan padanya. Innes melepas helmnya duduk tepat didepan rene, Jus jeruk yang bertengger di meja diseruputnya cepat.
“Rakus amat sich loe, itu punya  gue Innes” Keluh Rene kesal.
“Mbak Win….. Bikinin Jusnya 2 lagi” Teriak Innes kedalam rumah.
“Innes….” Rene semakin heran dan penasaran apa yang membuat orang didepannya ini menjadi brutal.
“Jadi Gini….” Innes menceritakan alur kronologis  kejadian yang dialaminya sejak  kepergian Zey.
Rene jadi ikutan bingung, gak biasanya Zey jadi kaya gitu.
“Kita harus bertindak” Usul rene
“Ngapain?”
“Kita Coba cek kekampus dulu yo, siapa tau dia emang disana”
“Tapi sore ini kegiatan baru dimulai jam 3, ini baru jam duabelas lewat”
“Kita tunggu aza disana, kebetulan gue mau numpang wifi-an dikampus, paket modem gue habis”
“Ya udah dech, Mbak Win Jusnya gak jadi……”
Mereka kemudian menuju kampus, sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang belum pulang, mereka menyusuri halaman kampus mencari tempat duduk yang terlihat sejuk. Rene kemudian duduk di tepi kolam dibawah pohon deket parkirann karena dari sini kita bisa melihat semua aktivitas mahasiswa maupun dosen yang keluar masuk kampus, strategis Place, jaringan wifi lumayan kuat, Innes kemudian melihat-lihat sekitar kampus, memang sepi, semua office tutup kecuali Baak dan Pascasarjana yang masih rame, dan kantin,
“Ren gue nyari minuman bentar” Pamit Innes.
Rene tak menyahut, ia sedang asyik dengan Laptopnya dan Headset ditelinganya.
Innes menghampiri penjaga kantin.
“Bu, beberapa hari ini liat Zey kesini nggak?” Innes dan Zey memang paling sering jajan dikantin itu, dan sesekali bersama Ezy dan Rene, Mereka lebih dikenal familiar oleh penjaga Kantin.
“Gak ada mbak, justru saya heran, ko kalian gak jajan disini lagi, Bosen ya sama makanan disini?” SI penjaga kantin malah makin bikin Innes puyeng.
“Bukan gitu Bu, memang jarang aza sekarang jajan” Jawab innes seolah tak mau Penjaga kantin Tau tentang hilangnya Zey. Innes meraih beberapa minuman kaleng dikulkas dan menyerahkan uang sepuluhribuan kepada si penjaga kantin.
“Mkasih ya bu, kembaliannya ambil aza”
“Pas ini mbak, gak ada kembaliannya” Jawab Penjaga kantin Nyleneh.
“Oh, gitu ya, belum rezekinya berarti Bu” Innes berlalu meninggalkan Sipenjaga kantin.
“Ye si Mbak mah aneh, mau ngasih kembaliannya tapi duitnya pas gitu kumaha atuh eta teh” Celotehnya sambil memasukkan uang kelaci. Logat sundanya terkadang masih nempel kalo lagi kesel.
“Ren, nyariin apa sich loe?” Innes kembali menghampiri rene sambil menyodorkan minuman kedepannya. Rene tak menggubris.
“Rene…” Teriak Innes kesal.
“Apa sich?”
“Ngapain sich loe serius amat”
“Ni liat…” Rene mnyodorkan Layar laptop kedepan Innes, disitu terlihat Profil Zey di Situs Pribadinya. Innes heran.
“Ada apa?” Tanya Innes gak paham.
“Loe gak nyangka kan, kalo sebenarnya Zey mencantumkan Profil dia  lengkap yang sebenarnya di Situs ini,yang kita tau profil di Fb atau Twitter Cuma gitu-gitu aza, tapi disini, kita bisa tau tempat favorit yang akan didatangi, kalo kita mikirnya pasti ngebayangin tempat-tempat indah diluar negeri atau daerah-daerah dengan pemandangan indah di beberapa kota. Tapi dia, loe liat dech dimana…” Keduanya terdiam.
“”Taman Embun…” Keduanya serentak menyebut tempat yang dituliskan Zey di profilnya.
“Gimana caranya loe bisa ngebuka Profil dia sedetail ini?” Tanya Innes
“Lupa ya, Gue kan pernah Nge-Hack Fb loe waktu loe Ultah”
“Wahh, rese lo, Loe jebol ya pengamannya Zey”
“Gak penting, mendingan sekarang kita kesana?”
“Tapi, masa dia ngabisin waktu disana, kan gak ada apa-apa disana, Cuma taman biasa doank, pemandangannya juga danau kawah putih, Nyeremin, tu kan tempat yang udah gak pernah dikunjungi orang lagi”
“Ni baca lagi, dia bilang, masalah akan hilang jika dibawa ketempat yang tenang, damai, sepi, jauh dari suara-suara menyedihkan dan memuakkan seperti sebuah kota, Ketenangan bisa didapat jika kita menenangkan hati dan pikiran kita dengan tempat yang tenang dan diam”
Innes diam.
“Ayoo…”Ajak rene. Keduannya pergi mengendarai Scovy putihnya Innes menuju tempat yang dimaksud.
***
“Gue Cuma mau dia balik”
“ #@*^&%*^*#”
“Dia itu hidup gue, Kalo dia gak ada, berarti hidup gue juga gak akan Ada”
“!@#@#^%!%@*&*“
“Gue gak akan pernah beranjak dari dia, dari cintanya, dari hidupnya”
“&@#%^$@%$!%$%!#!&*@^%*&^”
“Dia …”
“Stopppp!!! Jangan gila dech loe….”
“Gue memang Gila, gue gila, gue gak bener, gue gak normal”
“Bukan loe yang gak normal, tapi cinta loe yang gak wajar”
“Terserah, tapi itu perasaan, atau Ungkapan, atau harapan”
“Udah dech….. Berhenti bersikap kaya gini”
“Gue gak akan berhenti, berharap, yakin, percaya, dia pasti balik”
“Zeeeeey….. Please dech!!! Dia bukan segalanya buat loe…”
“Pleasee…. Gue gak mau denger loe nyalahin dia, kalo loe kesini Cuma buat nambah galau gue, mending loe bedua balik aza lagi”
“Loe tu nyebelinn… dia, dia, dia…”
“Dia punya nama, Devan”
“Lagian loe yang dari tadi nyebut dia lagi dia lagi…”
“Heeeyyyy…… Kalian mau berdebat apa mau nyelesain masalah sich?, gue mau pulang, udah sore, kalo masih mau disini, gue duluan, cuman gue bingung pulangnya naek apa, jadi loe  Zey, Innes, KITA PULANG SEKARANG!!!”
“Nggak, gue masih mau disini,”
“Loe tungguin disini sampe kiamat juga gak bakalan datang Zey”
“Kalian duluan aza”
“Okey, gue emang mau pulang, Innes, kalo loe mau nungguin Zey, Gue pinjem motor loe, loe pulang sama zey aza sana”
“Reneee….. Ko loe gitu sich, Zey kan rumahnya berlawanan arah sama rumah gue”
“Gue laperrr”
“#!$@%#^%*”
                Zeylania, gadis yang dikenal sangat ceria dan periang, tiga hari ini dia telah berubah, penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah sosok Pria yang selama ini hadir dalam hidupnya, mereka menjalin cinta selama 1 tahun lamanya, dan 3 hari yang lalu, Devan merubah hamper seluruh hidup Zey.
“Sayank, kamu percaya nggak, kalo cinta itu indah?”
Emm........ iya, Ko nanya gitu”
“Soalnya, setiap aku kenal suatu keindahan, itu adalah cinta, dan cinta itu adalah Kamu”
“Mulai dech…”
“Nggak, aku gak gombal lohh,, Ini serius, kamu adalah Keindahanku”
“Udah dech…. “
“Sayank, seandainya semua bintang itu indah, pasti dia gak akan pernah muncul lagi,”
“Emang kenapa?”
“Karena mereka pasti Minder liat Kamu yang jauh lebih Indah dari bintang-bintang itu
“Artinya Bintang-bintang itu gak ada yang Indah, Kamu ngerendahin Ciptaan Tuhan dech,,,”
“Bukan Gitu, gak ada yang lebih Indah dimataku, selain Kamu”
“Kamu tu Norak, Ngegombal mulu dari tadi, gak lucu”
“Gpp, selama aku bisa ada disamping kamu dan selalu membuat kamu bahagia, aku akan lakukan”
“Emang kamu mau kemana”
“Aku……. Harus Keluar Negeri, kuliah…..”
“Becanda nich…”
“Aku serius, aku gak bisa nolak keinginan orangtuaaku, aku benar-benar minta maaf, aku gak bisa selamanya ada disamping kamu, tapi aku janji aku akan ada buat kamu lagi, nanti, aku janji aku akan balik lagi kesini”
“Aku mau pulang…”
“Sayank,,,, Aku minta maaf”
“Anterin aku Pulang”
Taman embun menjadi saksi pertemuan terakhir mereka, Zey masih tak percaya dengan ucapan Devan, tapi ternyata dia memang benar-benar pergi, dia harus  melanjutkan kuliah Dokternya di Luar Negeri, keinginan orang tuanya, dan semua keluarganya pindah keluar Negeri, berbarengan dengan Bisnis ayah Dev yang berkembang dan harus dilanjutkan disana. Zey sangat terpukul, tapi Dev tidak bilang kapan tepatnya dia akan berangkat, suatu hari zey mencoba menghubungi Dev, tak ada jawaban, besoknya zey mencoba menghubungi lagi, tidak aktif, Zey mengunjungi rumah Dev, tutup, terpampang sebuah tulisan besar didepan gerbang ”DIJUAL HUB. 0812345xxx” Zey mencoba menghubungi Nomor yang tertera di papan itu berharap dapat memberi tahu kemana Dev dan keluarganya, tapi ternyata nomor itu tidak ada sangkutpautnya samasekali dengan keluarga Dev, dia hanyalah orang yang sudah membeli rumah Dev, kemudian akan menjualnya lagi. Saat itu Zey sengaja tak memberi tau temannya kepergian Dev, setelah satu minggu pencarian Zey baik Lewat jejaring social Dev, ataupun Hpnya, semuanya sia-sia, Tiba-tiba Zey mendapati E-mail dari Dev yang menyatakan
Sayank…. keindahanku yang melebihi bintang, Maafin aku, aku hanya manusia yang tak mungkin bisa menggapai bintang, Kamu keindahanku, dimanapun aku, keindahan itu tak akan pernah hilang, setiap keindahan yang kutemukan, itu adalah kamu, Aku akan selalu menyimpan keindahanmu dalam cintaku.
Maafin aku, maaf,,,,
Aku bukan meninggalkanmu, tapi meninggalkan penyesalanku yang tak mampu menggapaimu, tak mampu membuat keputusan diatas keputusan orangtuaku, aku disini untuk kamu, aku akan simpan cintaku untuk kamu, Sayangku yang indahnya melebihi Bintang, Kamu masih keindahanku… Maafin aku, Jangan buat harimu Kelam karena bukan selalu aku yang disampingmu, jalani lagi hidupmu seperti dulu, lupakan aku, jangan Ingat aku, jangan buat mimpimu dihadiri bayangku, jika Tuhan Ciptakan Keindahan Bintang sebagai pelengkap malam, Maka Tuhan tak akan tega menghapusnya dan melihat malam kesepian tanpa bintang, Dan Jika Tuhan Ciptakan Aku dan Kamu dalam suatu keindahan, maka Tuhan pasti pertemukan kita lagi, bila saatnya tiba nanti, I Love you, aku sayang Kamu….. ”
Air mata zey menetes deras, zey bukan semakin tenang medapat pesan itu, tetapi malah semakin terpuruk, ia seolah telah kehilangan semangat hidupnya, Alamat e-mail yang ia dapatkan tak bisa ia temukan lagi, berulang kali ia membalas pesan itu tapi tak juga terkirim, dari latar belakangnya e-mail itu masih E-mali alamat Indonesia, bgaimana mungkin Dev mngirim e-mail itu sedangkan ia diluar negeri.
Ia bingung, dan dengan tekadnya yang bulat bahwa ia akan menunggu Dev, sampai Dev datang lagi, tapi entah kenapa ia tak mau lagi berbaur dengan orang-orang disekitarnya bahkan berbohong kepada orangtuanya, dia bukan Zey yang biasanya. Dia Zey yang bimbang, Zey yang tak lagi periang, Zey yang banyak melamun, dan berkhayal, mengingat Sosok Pria yang mnjadikannya Indah Melebihi Bintang.
Zey telah patah semangat, ia benar-benar kehilangan, kehilangan cinta yang menjadi Hidupnya. Cinta Dev yang sebentar, kebahagiaan yang sesaat, Rasa yang hanya bisa menjadi harapan, cerita yang selesai sampai disini. Bahkan seminggu telah berlalu zey masih dalam pendiriannya, duduk manis di tepi danau yang sepi dan tenang dan diam. Kecuali suara Innes.
“Zey……, Hidup loe belum selesai, mana Zey yang gue kenal dulu, yang selalu ceria, periang, penuh dengan ide dan tulisan creative, gak kaya gini”
“Entahlah Nes, gue akan terus kayagini, sampai Devan Balik”
“kalo gak balik-balik?”
“Mungkin umur gue akan habis disini nungguin dia”
“Loe bener-bener gak normal Zey, Gak masuk akal”
“Akal gue emang udah gak normal, penuh dengan Keyakinan
“devan lagi, Devan lagi, Coba loe pikirin, loe masih punya kehidupan yang lain, Kuliah kelurga, karier, temen, cita-cita, mau dikemanain itu semua?”
“Biar waktu yang ngejawab Nes”
“Cukup Zey, loe udah nyia-nyiain seminggu waktu loe yang sangat berharga, seminggu itu loe udah negcewain Banyak orang, Keluarga lo bohongin, Kuliah loe tinggalin, Penggemar loe cuekin, dan temen-temen loe biarin”
“Gue masih mau nginget dia”
“Sini gue kasih tau……”
Innes menyeret tangan Zey, dan mengajaknya kesuatu tempat.
“Loe liat mereka,…” Sekelompok anak jalanan yang mengorek-ngorek ttong sampah, mencari makanan demi mnutupi rasa lapar mereka, Zey Heran, apa maksud Innes mngajaknya kesini.
“Dan itu,,,,,” Innes menunjuk sekelompok orang yang lagi ngamen dipinggiran jalan.
“Emang sich gak ada hubungannya sama cerita hidup loe sekarang, tapi, Hidup ituterlalu  berharga buat dijadikan kayagini Zey, Gak pantes sekiranya loe nyia-nyiain hidup loe demi seorang Dev yang gak jelas dia kemana, Hidup loe tu masih panjang, masa depan menanti loe tau nggak sich, loe harusnya bersyukur nasib kita nggak semalang mereka, loe harusnya mensyukuri hidup loe, bukan mneyia-nyiakannya…. Ngerti kan maksud gue, mulai sekarang berhenti mikirin Dev,”
“Tapi Nes,…”
“Gue tau, Dev pasti balik, Dev pasti akan datang buat loe, Cinta Dev gak akan hilang, entah kapan, gue yakin itu semua akan terjadi, asal loe gak nyia-nyiain hidup loe kaya gini, seperti yang Dev bilang kan, jangan jadikan hari loe kelam hanya karena gak ada dia disamping loe, Gue yakin Zey”
Zey berfikir, memikirkan apa yang akan di fikirkan dan apa yang ada dalam fikirannya.
“Gak usah kebanyakan mikir, gak liat apa badan loe kurus gitu, kurang makan, kurang tidur, masih mau mikir buat  mengurangi apa lagi?”
“Innes….”
Innes mengangguk, memandang wajah Zey…
“Gue mau makan Es Krim”
“Loe mau makan berapa banyak?”
“Sebanyak-banyaknya”
Keduanya berlari meninggalkan tempat yang masih dipenuhi hiruk pikuk kehidupan lain dikota, atau tepatnya kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang nyata ada didepan mata, tapi seolah tak terlihat. Sungguh malang nasib mereka.
***
2 Tahun kemudian,

Cinta itu masih kamu
Embun itu masih menetes
Aku masih menampung tetesannya
Aku masih punya sejuta rasa untuk menantimu
Kamu masih menjadi cinta dalam hdupku.
Cintamu akan ada dalam hidupku,
Hidupku hilang, karena kamu tak disini
Tapi kamu tetap hidupku
Dan aku akan cari cinta mu dalam penantianku...
 “Loe masih kesini?”
“Gue gak akan pernah meninggalkan tempat ini Nes..”
“gue ngerti Zey, Nanti juga Dev kesini,”
“Iya Nes, gue tau, walaupun loe ngomong gitu Cuma buat nyenengin gue,”
“Zey, gue akan selalu bikin loe seneng ko, walaupun itu gak bner”
“parah loe, gak gitu juga kale….. “
“Iya ya…”
Kali ini Zey sudah kembali menjadi yang ceria, periang, dan penuh dengan ide creativnya,  selama 2 tahun ini Zey selalu mengunjungi tempat ini, walaupun tidak sesering dulu, dengan membawa harapan dan keyakinan bahwa Deve akan datang kesini suatu hari nanti.
2 hari lagi, mereka akan wisuda, hari yang sangat bersejarah bagi mereka, hari dimana akan menjadi cerita indah untuk anak cucu mereka,
Rene dan Ezy tak lagi bersama mereka, Ezy pindah kuliah gara-gara ayahnya meninggal dan dia harus tinggal bersama neneknya, Rene memutuskan untuk menikah ditengah pendidikannya, dan mempunyai anak, setelah itu ia akan melanjutkan lagi. Keputusan yang aneh.
Sedangkan Zey, sukses dengan novelnya yang berkembang di pasaran, zey akan menekuni hobbinya yang sekaligus menjadikannya terkenal karena karyanya yang mengangkat cerita dan kehidupan realita kehidupan kota. Ia masih menjadi gadis yang kretaive, kritis dan tekun. Sedangkan Innes, masih merencanakan apa yang akan ia kerjakan setelah lulus kuliah.
“Zey, mau makan es krim?”
“Hm… nggak ah, perut gue ndut nich, bntar lagi wisuda, gue gak mau nanti terlihat buncit”
“Gaya loe, Cuma dikit, yoo…”
“Iya dech iya,,,”
Raut wajah mereka terlihat sumringah, benar sekali, Zey telah menemukan hidupnya lagi, dia bertekad akan terus melanjutkan hidupnya demi orang-orang disekitar dan keluarganya.
Dan wisuda didepan mata, itu artinya perjuangannya selama ini telah mencapai kesuksesan besar, selain novelnya yang mendapat sambutan positif dari masyarakat, bahkan ada yang dikontrak produser untuk memfilmkan Novelnya. 
Bayangan Dev memang tak bisa hilang, walau tak ada kabar apapun dan tak ada komunikasi apapun dari Dev, Zey tetap percaya dan menunggunya. Cinta membuatnya menjadi kuat untuk memegang prisnsipnya.
Prinsip yang akan ia pegang sampai waktu mengakhirinya.
Awal Oktober 2012, Pelaksanaan Wisuda Innes dan Zey dilaksanakan hari ini.
“Zeeeeey….”
“Innes,,, gak usah teriak-terika gitu napa”
“Gue seneng banget Zey, gue bahagia…”
“Kenapa?”
“Belum diwisuda, gue udah diterima kerja diperusahaan percetakan Majalah terkenal,  yang waktu itu kita nganterin lamaran”
“Yang bener,,, Ko bisa,”
“Iya, gue kemaren kan dites gitu, bisa apa, dan gue mengeluarkan semua skill yang gue punya”
“Emang loe bisa apa”
“Rese’ loe, ngeledek mulu, serius nich”
“Iya ya….”
“Jadi gue itu ditanyain macem-macem, disuruh macem-macem, trus disuruh bikin keputusan yang berkaitan dengan pnerbitan yang menyangkut pesanan, gila, perlu berfikir keras gue waktu itu”
“Trus, gimana lanjutannya”
“Dan keputusan gue diterima,,, pokoknya gue seneng bangeeeeett…” Innes menggoyang-goyang tubuh Zey,
“Iya iya, gak gitu juga kale ahh, gue udah dandan cantik-cantik gini lo acak-acak”
“Sorry… Itu ungkapan Zey, perasaan yang tak bisa diungkapkan”
“Aneh lkata-kata loe, gak tersusun”
“Iya tau, loe paham struktur kata-kata, sombong”
“Ehh… kita tu 4 taon lagi belajar kayagituan, kemana aza loe”
“Hah… 4 Taon, masa sich, gue kaya ngerasa baru kemaren dech Ospeknya”
“So ABG loe, inget Umur”
“Beneran loh, cepet banget ya 4 taon…”
“Lama Nes,…”
Innes terdiam, dia tau, 2 tahun sudah Zey kehilangan Deve,  dan kalau dipikir lagi kuliah harus menempuh waktu paling cepet 4 taon, berarti Zey harus menunggu 2 taon lagi, Huft….. Lama banget.
“Sorry Zey, tenang aza, gak akan lama ko kalo dijalani, iya nggak…” Innes merangkul pundak Zey yang sedang sibuk membenahi dandannya.
“Nes, sikap loe gak wajar tau gak sich, pake kebaya tapi tangan keman-kemana”
“Oh Iya… Hhheee” Innes melepaskan tangannya dan duduk manis disebelah Zey.
Acara akan segera dimulai, keduanya terlihat gugup, karena sebentar lagi akan mengucap sumpah wisudawan yang harus ditepati seumur hidup mereka, untuk segenap hati berbakti dan menerapkan ilmu mereka demi kepentingan orang banyak, dan kepentingan bangsa dan Negara. Acara yang sacral mulai terlihat ketika Rektor dan para Dosen memasuki Gedung.
Acara berlangsung sangat ramai dan lancer sampai selesai, beberapa orangtua wisudawan terlihat sangat bahagia. Zey dan Innes menghabiskan waktu bersama, berfoto bersama, dan menikmati hidangan bersama keluarga yang datang.
Hei,,,”
Tiba-tiba seorang  pria menyapa mereka, tepatnya Innes. Wajah Innes Nampak tersipu malu, menatap pria itu,
“Kan Gue udah bilang jangan samperin gue disini..” Bisik Innes kepada Pria itu.
“Gue Cuma mau….” Ucapan pria itu terpuus, ia spontan melihat kearah Zey.
Zey jadi bingung, Zey mengenal pria itu, teman sekampus mereka, dan sepertinya Innes terlihat sangat dekat dengannya, bahkan lebih, atau jangan-jangan..
“Kalian jadian Yaa…” Ucap Zey tepat sasaran.
Emmm…. Enggak, eh maksudnya, bukan gitu…. Zey,,, gue gak bermaksud…” Innes mencoba mengalihkan maksud Zey,
“Loe tu aneh Nes, gue gak bisa maksa kehendak gue juga ko,”
“Zey, kan waktu itu gue yang mau, nemenin loe gak akan punya pacar kecuali loe juga punya pacar, Zey gue gak bermaksud Bohongin loe”
“Innes, kalo gue marah itu namanya gue egois, Loe gak perlu ngelakuin itu, kalo loe emang udah dapat pasangan loe ya udah, gue gpp lagi”
“Beneran, Zey loe gpp kan, gue janji dech akan temenin loe terus kapanpun loe butuh gue ya..”
“Iya Innes, gpp… ya udah kalian ngobrol aza”
Zey menjadi galau, melihat keindahan didepan matanya, Keindahan…. Devan,  gimana kabarnya dia sekarang, seperti apa dia sekarang, dan dimana dia Sekarang. Dua tahun itu memang sangat lama,,,
Bagi Zey yang hidup dalam sebuah harapan, cinta yang menguatkannya untuk yakin bahwa Devan pasti akan datang.
***
2 tahun lagi,

Sekarang Cinta itu penantian,
Harapan yang penuh dengan sebuah keyakinan
Tak pernah luput, tak pernah lepas, tak pernah Hilang
Cintamu selalu hadir dalam garis takdir Hidupku
Cintamu ada dalam keindahan yang kau ciptakan
Dalam hatiku, dalam jiwaku, dalam jantungku
Dalam setiap asa yang kurasa,
Kamu, selalu menjadi harapan dalam cintaku,
Selalu menjadi kata-kata yang tergores indah dalam ceritaku
Mengalun merdu lewat bisikan angin yang kudengar hampir setiap malamku
Itu rindu, itu penantian, itu harapan,
 yang hadir setiap waktu dalam diamku dan relung malamku...

“Zeeeeeey….” Suatu hari di tempat kerjanya Zey. Tiba-tiba Innes masuk ruangan dan menghampiri Zey.
“Innes, lo tu masih aza ya teriak-teriak manggil nama gue, ini kantor, bukan Kampus”
“Sorry, ehh tau nggak…..”
“Nggak.. kan loe belum cerita,”
“Iya sich, ehhh serius nich..”
“Iya apa, ?”
“Reyhan ngelamar gue…”
“Terusss…”
“Ko Loe gak kaget sich…”
“Kan loe udah bilang seminggu yang lalu”
“Masa’…. Iya sich, tap ini beda, Bulan depan gue mau nikah..”
“Hahhh… Secepat itu?”
“Iya, gue seneng banget,”
“Innes, selamet ya, bakal jadi istri orang dech loe”
“Idihh…. Ya iyalah, aneh loe”
“Gue diundang nggak
“Justru itu gue pengen loe jadi penasehat acara gue”
“Penasehat? Apa’an tu”
“Penasehat, gue perlu penasehat, apa yang harus gue lakuin nanti pas acara, trus apa yang harus gue persiapkan buat jadi Pengantin,,,,”
Lah, gue kan belum pernah nikah, mana gue tau kayagituan,”
“Tapi loe tu pernah tulis artikel sama novel tentang pernikahan, gue terkesima banget, gue pengen lo jadiin gue kaya di Novel loe itu”
Itu semua khayalan, dan hanya sedikit ide yang mungkin belum pernah kita temuin,Aneh lo Nes...
“Biarin, justru itu gue mau Loe jadiin gue Peran Utama dalam Novel itu, mau ya… ya..”
“ Hmhh….. Iya…”
Dan kali ini Innes akan benar-benar menikah, melepas lajangnya untuk orang yang ia cintai, sedangkan zey….
“Zey, kenapa sich loe menutup hati loe untuk cowok lain yang deketin loe, kenapa Gak diterima aza?” Innes berbisik menggoda zey, sambil melirik seseorang yang barusan mengantar berkas ke meje kerja Zey, Innes tau dialah pria yang sering diceritakan Zey padanya, pria yang beberapa waktu terakhir ini menyatakan Cintanya untuk Zey, Pria itu tersenyum manis kearah Innes dan Zey, sambil berlalu lagi.
“Bukan menutup Nes, tapi belum bisa”
“Masih buat Dev? Zey, udah  4 taon loe Single, gak mau nyoba pengen punya pacar gitu?”
“Pacar itu bukan untuk dicoba, tapi dijalani dan serius dipertahanin sampai maut memisahkan, bukan juga hanya untuk mengusir sepi dan memotivasi kita untuk lebih bisa hidup, tapi lebih dari itu, lebih dari yang loe ngerti selama ini.”
“Tapi Zey, Dev itu masih harapan”
“Harapan yang punya kepastian, walaupun gak ada jawabannya, tapi gue tetep percaya dia”
“Zey, Dev udah 4 taon kan ninggalin loe?”
“Bukan ninggalin Nes, tapi Berangkat”
“Sama aza itu mah… “
“Emangnya kenapa?”
“Artinya penantian loe akan segera berakhir, karena ini adalah tahun terakhir perkuliahan, dan kalau seandainya Dev bener-bener dating dia pasti akan nyamperin loe”
“Semoga….”
“Semangat Zey….”
                Zey masih saja menunggu Devan, menunggu kehadiran Devan, meunggu cintanya Devan, menunggu waktu ngejawab atas penantiannya selama ini. 4 tahun sudah berlalu, terlihat sangat lama, lama sekali, dan Zey sanggup melewati itu semua tanpa ada cinta yang lain yang mengganti posisi Devan.
“Gimana Zey penampilan gue?”
“Cantik banget Nes”
“Beneran ya”
“Iya,,, Bentar lagi Ijab Kabul, loe siap-siap ya,,”
“Zey, gue gugup Nich..”
“Itu biasa Nes, loe tenangin diri, tarik nafas, keluarkan,…. Rileks, Okey”
“Oke oke… Hufht… Bismilahh…” Innes melangkah keluar didampingi Wali dari mempelai wanita, ayahnya.
“Good luck Nes..” Bisik Zey pelan,,,
Zey tersenyum melihat keanggunan sahabatnya yang sekarang telah menjadi pengantin dan siap menjalani hidup barunya dengan orang yang dicintainya.
“Saya terima nikahnya Raynanda Innes Rahnita Binti Muhamad Syahni Hakim dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai…..”
“Bagaimana saksi, sah….”
“Sahhhhh…”
”Alhamdulilah…”
“Alhamdulilah..” Seru Zey dari belakang, ikut bahagia melihat sahabat didepannya. Gemuruh cinta membahana diruangan yang megah inie, rumah kediaman Innes, hari ini Innes telah resmi berstatus istri.
Tiba-tiba…
Haloo…”
“Mbak, Ibu masuk rumah sakit…”
“Apaa…., rumah sakit mana?”
“Cinta Bunda”
“Ya udah mbak kesana sekarang”
Zey bergegas meninggalkan acara Innes, tanpa kabar apapun…. Ia segera berlari menuju rumah sakit seperti yang disebut adiknya. Tidak sampai beberapa menit Zey sudah sampai di rumah sakit,
“De, ibu gimana..?’
“Sudah ditangani Dokter Mbak…”
“Kenapa ibu bisa masuk rumah sakit, ibu kan gak sakit”
“Jantungnya kumat mbak…”
Zey gugup, dan begitu panik, ia khawatir dengan keadaan ibunya. Entah kenapa Zey memaksa masuk ruangan dan ingin menemui ibunya, tapi suster melarangnya, menahan tubuhnya….
“Saya harus ketemu ibu”
Maaf mbak Dokter sedang menangani Ibu Anda, tolong tunggu diluar,”
Zey melemah, memandang Adiknya pasrah.
“Ibu kritis Mbak, “
“Bapak Mana?”
“Bapak Lagi kerumah saudara nyari pinjeman buat berobat ibu”
Zey meneteskan air matanya, sesekali ia melongokaan kepala kedalam ruang, menatap dokter yang sedari tadi sibuk menangani ibunya. Kakinya lemas, ia begitu sangat khawatir.
Beberapa menit kemudian Dokter telah selesai menangani Ibu Zey, dan keluar ruangan sambil merapikan perlengkapan tubuhnya, masker masih menempel menutupi separo wajahnya. Perlahan sang dokter membuka pintu diikuti suster lainnya. Spontan Zey langsung menghampiri Dokter, sang dokter merasa terkejut karena tiba-tiba Zey berdiri tepat di depannya,
Perlahan dokter itu melepas Maskernya…..
“Dok, gimana ibu sa… ya…..?” Ucapan Zey terputus, dadanya tersentak kaget, begitu juga dengan sak dokter tak kalah kaget dengan Zey, keduanya saling pandang, mata mereka saling menatap tajam, kondisi zey yang  panic semakin terlihat tak terkontrol, ia benar-benar kaget melihat sosok yang sekarang berdiri tepat didepan matanya. Sosok yang begitu ia kenal, sosok yang tak pernah ia lupakan. Zey tak dapat berkata-kata, matanya berkaca-kaca,,,, ia lantas berlari kencang menyusuri koridor RUmah sakit, membuat adik laki-lakinya jadi ikutan panic,  zey terus berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah sakit dan tak lagi memikirkan kondisi Ibunya.
“Mbaaaaakkk….”Teriakkan adik laki-lakinya tak ia gubris, ia bahkan tak mengucap kata sepatahpun.
“Dok, ibu saya kenapa” Adik laki-laki zey menjadi khawatir dengan kondisi ibunya, ia semakin panic dan bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan ibunya.
“Ibu kamu gpp, kamu tenang ya, kamu boleh temui ibumu didalam” Jawab dokter pelan.
“Tapi kenapa Mbak Zey….”
“Mbak kamu gpp, silahkan kamu temui ibumu, Sus… anter dia kedalam”
Suster kemudian mengantarnya masuk, sedangkan dokter masih kebingungan, berusaha menyusul Zey.
“Emm… Sus, tangani pasien didalam dengan sangat baik, jika terjadi apa-apa segera hubungi ponsel saya, jangan keruangan, saya harus melakukan sesuatu” Ucap dokter itu diikuti anggukan  beberapa suster yang berada dibelakngnya, Dengan sangat cepat dokter itu kemudian menyusul langkah Zey, mengejar jejak kaki Zey yang telah jauh meninggalkan Koridor rumah Sakit, Dokter itu mengejarnya sampai kehalaman depan rumah sakit, dilihatnya kesekeliling halaman dan parkiran, tak didapati apa-apa, sosok Zey telah menghilang entah kearah mana. Dan semua ini terkesan sulit untuk dijelaskan. Sang Dokter kembali masuk, dan masih memikirkan kata-kata yang ada didalam pikirannya. Masih rumit.
***
Jika cinta itu sebuah penantian, maka jangan pernah berhenti menanti,
Jangan pernah berhenti berharap,
Jangan pudarkan keyakinanmu untuk sebuah keindahan cinta,
Karena cinta itu sebuah penantian, sebuah keindahan,
Setitik keyakinan, sebongkah kepercayaan,
dan sempurna sesempurna hidup yang sangat berharga,
dan hidup itu cinta,
cnta ada karena kehidupan,
cinta disini karena kepastian,
Uraian kata dalam setiap ungkapan
Tak kan pernah pudar, tak hilang, tak kan musnah
Dalam waktuku dan hidupku, setiap nafas dan cinta yang berbaur dalam janjimu.
Cintaku, penantianku, harapanku dan Keyakinanku semata hanya untukmu...

Malam yang hening dan gelap, suasana terlihat sepi, hanya remang-remang bohlam kecil kekuningan yang bertengger di teras rumah Zey, suara angin malam terdengar berhembus pelan, menyibakkan hati yang kaku dan beku, ditengah suasana jiwa yang sulit.  Dua mahkluk ini mencoba memasuki ruang hati berharap menemukan jawaban hati yang rumit.
“Aku datang Cuma buat kamu, keindahan itu akan kugapai, semampuku”
“Aku ada disini buat nungguin kamu”
“Maaf!”
“Untuk apa?”
“Aku  kecewain kamu”
“Maaf aza gak bisa menyelesaikkan semuanya,”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan supaya semuanya bisa selesai?”
“Tak ada yang perlu diselesaikan, karena ini baru permulaan, jalan ini masih panjang”
“Maksud kamu??”
“Aku disini, untuk melanjutkan jalan kita, berhentilah beristirahat, kita harus lanjutkan apa yang sudah kita mulai”
Tiba-tiba Pelukan hangat menyentuh tubuh Zey, mengalunkan suara hati yang masih kaku, mencairkan jiwa yang terlihat beku, menjawab semua cerita, penantian, keyakinan dan harapan.
“Sayank….. keindahanku yang melebihi bintang, aku tak sanggup berjanji jika aku tak yakin bisa menepatinya, aku hanya punya satu janji yaitu menepati apa yang sudah ku ucap, aku….. selalu sayang kamu… “Pelukannya semakin erat. Zey membalas pelukkan Pria yang berada disampingnya, pria yang selama ini dia tunggu, pria yang telah menjadikannya indah melebihi Bintang.
“Kamu datang dengan kesuksesanmu, kamu datang dengan janjimu, aku tak tau bagaimana mengungkap kata atas rasa bahagia yang kupunya”
“Sayank…. Janjiku Cuma satu, membuatmu selalu Indah melebihi Indahnya bintang”
Zey melepas pelukkannya, menatap mata Pria itu tajam, seperti dara yang merindukan kekasihnya, seperti bunga yang menunggu kumbang menghampirinya.
Pria itu, Devan, menatap Zey lekat, mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna merah hati, membuaka isinya seraya berkata,
“Aku adalah seseorang yang datang hanya untuk satu tujuan, memberikan tanda ini kepada orang yang ada didepannya dan memohon agar orang  itu mau menerimanya, dan tak kan menolaknya”
Zey menatap isi kotak itu dan tersenyum,
“Tapi ternyata, orang itu tak mau menerima tanda yang kamu berikan untuknya” Jawaban Zey membuat Dev mengernyitkan dahinya.
“Orang  itu meminta kepada seseorang yang memberi untuk bersedia mengenakan tanda itu pada jarinya”
Devan tersenyum sangat manis semanis hatinya, sesegera mungkin mengenakan cincin itu dan melingkarkannya di jari manis Zey.
“Ini permintaan seseorang itu, agar orang yang ada didepannya bersedia menjadi yang halal untuknya, selamanya”
Lagi-lagi zey tak dapat menutupi kebahagiannya, rona wajahnya benar-benar terlihat sangat bahagia. Tak sempat zey menjawab rangkaian kata-kata Devan, Tiba-tiba ponsel Zey bordering.
“Haloo…”
“Zey, tadi siang loe kemana aza, kabur gak ngasih tau gue, kan acara gue belum selesai…” terdengar jawaban suara wanita yang sangat familiar ditelinga Zey, Innes.
“Gpp Nes, tadi Ibu mendadak masuk rumah sakit, jadi aku harus buru-buru pergi, Maaf ya..”
“Haaa….. Ibu lo masuk rumah sakit, sakit apa, terus gimana kabarnya sekarang, gue ikut prihatin ya zey, gue jenguk ibu loe ya sekarang?”
“Ibu udah gpp Nes, tadi sore udah boleh pulang, Cuma kecapean aza ko, sekarang udah gpp, udah ditangan dokter spesialis dengan sangat baik, lagipula ini kan malam pertama loe, masa loe mau ninggalin gitu aza, loe tu gak boleh kemana-mana…”
“Gpp, gue udah izin sama Rey, kalo gitu syukur dech ibu loe Gpp, besok gue kerumah loe ya, sekalian gue ketemu loe, jangan sampe loe frustasi sama masalh loe….. “
“Gue udah Gpp Nes, udah sembuh, sudah ada dokter yang nanganin gue dengan segenap kemampuannya, ya udah Nes, have fun ya, selamat bersenang-senang, loe emang sahabat gue yang paling baik sedunia, bye….” Zey memutus telfonnya cepat, memandang pria yang sedari tadi menunggunya, dan Zey mendaratkan pelukannya erat hingga tak ingin lagi melepaskannya. Devan membalas dekapan Zey hangat.
Malam ini, dan bintang-bintang telah menjadi saksi mereka, saksi dalam janji yang terucap untuk cinta yang sempat tertunda, seperti Embun yang menetes sebentar kemudian hilang, jatuh dan pudar, bahkan musnah tak membekas, tapi sekarang, Setiap tetesan embun yang jatuh, tak lagi hilang, tak lagi musnah, karena daun yang menampungnya semakin melebar dan mampu menampung tetesan itu, sampai tak sanggup menahannya, hingga akhirnya jatuh secara bersamaan dengan patahnya dahan yang menopangnya, rapuh karena waktu, lemah karena angin, pada saatnya semua embun akan jatuh, semua benda akan pudar semua rasa akan hilang, apapun itu, semuanya berawal dari cinta, cinta, dan hanya cinta.
Semakin lama, semakin tua, semakin sempurna, seperti kata-kata yang dirangkai indah demi satu hal yang Indah. Yaitu Cinta.
Yang mampu buat segalanya berubah, membuat segalanya terasa berbeda, seperti apapun itu, cinta adalah segalanya, segala hal yang dirasa ketika hati mulai bicara, memaksa hidup untuk menjalaninya walau terkadang kita tak bisa, tak sanggup dan tak kuat menahan terpaan angin yang bertiup dari semua arah dari segi hidup darimanapun asalnya.
Cinta, keindahan, keyakinan, harapan dan kepastian, ada dalam setiap jiwa yang percaya. Bahwa itu, adalah cinta.

 *End*

Tidak ada komentar: