Senin, 17 Maret 2014

ini tentang saya ...

cuma bisa netesin air mata, sedikit, tapi sulit untuk mengalir, serasa udah kering, bukan karena saya yang tak mampu menahannya, tapi karena terlalu derasnya dan banyaknya air mata yang sudah keluar sebelumnya, hingga tak tersisa lagi, baru hari pertama masuk dan duduk aza udah ada yg mmbuat telinga ini miris, miris dengan kisah ini, miris dengan kesenjangan sosial yang begitu sangat terasa, mana mungkin saya mampu dan bertahan berada dilingkungan yang sperti ini, begitu banyak perbedaan, begitu banyak hal yang membuat saya merasa paling kecil, menyamakan jalan pikiran saja rasanya tak mampu, apalagi menyamakan selera,mereka terlalu tinggi bagi saya,dan setelah sekian tahun saya duduk diangku perkuliahan, ini semester paling menyedihkan bagi saya, gak kebagian kelas, dikelas pun gak punya temen deket, gara2 saya yang telat ngentry krs, dan gra2 sya telat bayar, akarnya adalah masalah uang, berawal dari sebuah rupiah, lagi-lagi sebuah mimpi dan keinginan terhalang, terhambat, tersandung batu kerikil, hanyakarena butiran nol-nol yang sulit didapatkan, saya memang berbeda, kita memang gak sama lagi, dari materi dan pemikiran, kita terlalu jauh berbeda, saya tak mampu beradaptasi jika dilatarbelakangi materi, satu hal yang membuat saya terus menghindar dari sahabat-sahabat saya saat kuliah, sekolah ataupun sebuah komunitas lainnya yaitu kesenjangan materi, saya sudah berusaha keras menepis semua pemikiran tentang materi, dan tentang mereka-mereka yang bermateri, saya sudah sebisa mungkin berfikir positif tentang smua ini, wlau sjenak saya mampu menerimanya, tapi cuma sejenak, begitu banyak kesenjangan yang saya perhatikan, di tengah-tengah matakuliah yang notabennya mengarah ke hal-hal sosial, tanpa disadari, hati yang duduk di kursi ini sedang berfikir mungkinkah harus sekeras ini hidup demi sebuah pendidikan yang layak, demi sebuah masa depan yang sgt saya mimpikan, atau minimal kehidupan yang layak, untuk kedua orang tua, keluarga, agar mereka bisa berbahagia, dengan hasil doa mereka, dukungan moril dan semangat yang setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detak nafas ini selalu saya ingat dan bayangkan, membayangkan bahwa suatu saat nanti saya harus membahagiakan keluarga saya, memberikan mereka kehidupan yang layak, berhenti berharap pada belas kasihan orang lain, berhenti menangis dan berselisih ketika tak satu rupiah pun tergenggam ditangan mereka, hanya itu yang saya sangat harapkan, dari 4 tahun lamanya saya duduk di bangku perkuliahan, 4 tahun saya tidak hanya mendapatkan ilmu tentang pendidikan, tapi ilmu sosial, ilmu untuk bisa lebih bersabar dan tawakal, dalam menapaki jalur sempit  yang sepertinya sangat dipaksakan untuk dilalui, jalur ini terlalu sempit, bahkan terkadang saya tak mampu melangkahkan kaki untuk melanjutkannya, mengangkat langkah kaki dan melanjutkan tapakan telapak kaki, hingga suatu hari nanti saya pasti bisa slesaikan perang batin yang menyesakkan nafas ini, perang keyakinan dan minimnya kepercayaan pada diri sendiri, bahwananti, suatu saat nanti, segala sesuatu yang kita perbuat, tak akan pernah ada yang sia-sia, tak akan yang hanya bayang-bayang belaka, segalanya harus menjadi mimpi indah, yang harus terwujud.
saya memang terkadang tak suka dengan sebuah peraturan, tak suka dengan sebuah persyaratan, dalam benak saya, selama kita masih dipercaya untuk melakukan hal-hal dan bertanggung jawab terhadap hasilnya, maka kita masih bisa menjadikan jalur persyaratan itu alternatif kedua, karena ini sebuah bidang pendidikan, pendidikan yang mendidik mental manusia atau sumber daya manusia menjadi berfikir dengan logikanya, berfikir tentang tanggung jawab yang akan dia emban sendiri, menanamkan fikiran bahwa tanpa adanya peraturan, kita semua bisa laukan hal-hal yang diperintahkan, yang perlu dilakukan hanya menanamkan pada pemikiran mereka, tentang apa yang menjadi resiko, tanpa peraturan namun tetap ada persyaratan. jika peratuan tersebut tidak dilatarbelakangi materi, maka harus diterapkan, tapi jika mengandung sebuah peraturan materi, maka harus ada toleransi, karena jenjang materi dan kondisi materi seseorang tak sama dengan yang lainnya,
jika ditanya lagi, bukankah kuliah itu ada resikonya, anda berani kuliah disini berarti anda berani terima resikonya,
itu jika kampus yang disebutkan,memberikan fasilitas dan pelayanan yang memuaskan, dan kualitas pendidikan yang layak, serta bertuliskan label "hanya untuk level orang-orang yang bermateri", barulah boleh membuat pertanyaan seperti itu, dan saya jamin, bangsa kita ini, manusianya ini gak akan pernah bisa mendaptkan kursi kuliah itu, karena apa, karena rata-rata penduduknya adalah penduduk yang tidak bermateri, mereka yang bermateri gakpernah berfikir untuk kuliah di negeri sendiri, orangtuanya memilihkan jalur pendidikan yang elit diluar negeri, lalu kampus yang didalam negeri ini untuk siaa, bukankah untuk semua masyarakat yang membutuhkannya, dan bukankah itu taggung jawab pemerintah untuk membangun sumber daya manusia, jika sudah terjadi, dan jika semua ini sudah ada dilingkungan kita, minimal didaerah ini, lalu apa peranan pemerintahan untuk pendidikan, apa peranan pengusaha-pengusaha sukses yang menjajah daerah ini demi keuntungan mereka, tidak adakah upaya atau usaha untuk membantu pendidikan?
haruskah orang-orang kurang beruntung seperti saya harus mengubur mimpinya dalam-dalam hanya karena sebuah peraturan kampus yang menyebutkan, siapa cepat bayar, dia dapat kelas, yang telat ya telat juga, terpaksa harus dpt kelas paling uncit, 
saya hanyalah salah satu dari sekian banyak manusia yang menggantungkan harapannya pada sebuah pertolongan, bukan karena tak mau berusaha, tapi tak mampu, jika ditanya lagi, 
anda tau anda tak mampu mengikuti jalur peraturan ini, dari awal mengapa anda masih bersikeras untuk maju, 
inilah saya, ini tentang saya, saya adalah seseorang yang berharap akan ada sebuah harapan yang masih bisa saya dapatkan, saya berusaha keras meyakinkan diri saya, tepat ketika saya menajajakan kaki saya pertama kali memasuki halaman kampus ini, bahwa akan ada jalan jika kita memilki keinginnan, akan ada solusi, jika kita memiliki niat dan harapan, dengan keyakinan saya, dan hanya bermodal yakin, saya mampu melangkah sampai 3 tahun setengah lamanya, saya mampu jalani semua fenomena hidup saya ditengah-tengah jlur yang saya tempuh ini, keras, gelap, pekat, bahkan kadang saya tak mampu menatap mana yang harus saya lalui, jalan mana yang harus saya lewati selanjutnya, harus berhenti sampai disinikah, atau melanjutkannya dengan mata terpejam, dan berharap jalan yang ditempuh bisa ditemui jalan akhirnya. itu juga yang membuat saya percaya bahwa saya akan menemukan org2 dermawan yang bersedia mengulurkan tangganya, demi sebuah bangku perkuliahan, saya terus berusaha menyodorkan berkas-erkas agar saya menerima toleransi dan bantuan untuk maju, ada yang dengan seang hati membantu, ada yang mencibir, ada yang menyela, bahkan ada yang bernegatif thingking, smua itu menjadi sebuah warna dalam perjalanan saya, dan juga menjadi alsan kuat mengapa saya memberanikan diri membawa modak yakin bahwa saya bisa selesaikan misi saya sampai akhir.

Tidak ada komentar: