Jumat, 20 Mei 2011

Teori Kebangkitan Nasional "20 Mei"

Opini Publik

20/05/2011 09:25:55 Pada setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati hari yang dianggap istimewa dan penuh makna, yaitu Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan hari istimewa penuh makna ini tidak saja dilaksanakan dengan upacara bendera akan tetapi terkadang dilakukan dengan berbagai kegiatan yang merentetinya seperti sarasehan, dialog budaya, diskusi politik, seminar pendidikan, dan sebagainya.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bahkan tidak hanya dilakukan oleh bangsa Indonesia di dalam negeri akan tetapi yang sedang berada di negara manca pun juga melakukannya. Setidaknya di kedutaan besar RI dilakukan peringatan Hari Kebangkitan Nasional meskipun secara seder-hana akan tetapi penuh dengan makna.
Tanggal 20 Mei itu sendiri diambil dari tanggal lahirnya Boedi Oetomo (BO) 20 Mei 1908. Saat itu sekelompok pemuda intelektual yang nota bene sebagai pelajar sekolah pendidikan dokter Hindia, School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), mendirikan organisasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (meski ketika itu istilah Indonesia belum populer) berlandaskan pada semangat persatuan dan kesatuan.
Berbagai Teori
Bahwa Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan berdasarkan hari lahir BO kiranya tidaklah terbantahkan lagi; namun mengenai lahirnya jiwa dan semangat kebangkitan nasional ada beberapa teori yang menyertainya.
Teori pertama menyatakan bahwa semangat kebangkitan nasional lahir bersamaan dengan berdirinya BO. Kepahlawanan tokoh-tokoh BO seperti Sutomo, Wahidin Soedirohoesodo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soera-dji, Raden Adipati Tirtokoesoemo, Pangeran Ario Noto Dirodjo, Soewardi Soerjaningrat dan lain-lain, itulah yang mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa untuk mencapai cita-cita bersama.
Teori kedua menyatakan bahwa semangat kebangkitan nasional lahir bersamaan dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Pasar Laweyan, Surakarta, pada tahun 1905 dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar supaya dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar China yang sangat dominan ketika itu.
Tokoh-tokoh SDI antara lain Haji Samanhudi, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, dan Hasan Ali Surati (India). Di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto. SDI dikembangkan menjadi Sarekat Islam (SI) yang kiprahnya tidak sekadar di bidang ekonomi khususnya perdagangan akan tetapi ke bidang sosial, politik, dan keagamaan.
Teori ketiga menyatakan bahwa semangat kebangkitan nasional lahir bersamaan dengan keluarnya tulisan Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” (Andaikan Aku Seo-rang Belanda) pada surat kabar De Express pimpinan Douwes Dekker edisi 20 Juli 1913. Dalam tulisan ini Soewardi mengritik rencana pemerintah Hindia Belanda menarik sumbangan dari warga termasuk kaum pribumi untuk memperingati Hari Kemerdekaan Belanda dari jajahan Perancis yang perayaannya akan dilaksanakan di Hindia Belanda alias Indonesia.
Teori keempat menyatakan bahwa semangat kebangkitan nasional lahir bersamaan diikrarkannya Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Diikrarkannya Soempah Pemoeda merupakan manifestasi jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan antaretnis, antarbudaya dan antaragama untuk men-jadikan Indonesia sebagai tanah air, bangsa dan bahasa kita bersama.
Soempah Pemoeda merupakan hasil Kongres Pemoeda yang berlang-sung pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Panitia kongresnya terdiri dari pemuda berbagai etnis, budaya dan agama; seperti Soegondo Djojopoespito (Ketua; PPPI), RM Djoko Marsaid (Wakil Ketua; Jong Java), Mohammad Jamin (Sekretaris, Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Bendahara; Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Pembantu I; Jong Islamieten Bond), R Katja Soengkana (Pembantu II; Pemoeda Indonesia), Senduk (Pembantu III; Jong Celebes), Johanes Leimena (Pembantu IV; Jong Ambon) dan Rochjani Soe’oed (Pembantu V; Pemoeda Kaoem Betawi).
Kerukunan dan Prestasi
Banyaknya teori tentang lahirnya semangat kebangkitan nasional terse-but dapat dilihat dari sisi yang positif; yaitu adanya saling keterkaitan jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan antarperistiwa. Kiprah Boedi Oetomo, kiprah Sarekat Dagang Islam dan Sarekat Islam, tersebarnya karya tulis Ki Hadjar Dewantara serta diikrarkannya Soempah Pemoeda memiliki keterkaitan dan kesamaan semangat persatuan dan kesatuan menuju tercapainya cita-cita bangsa. Implikasinya, dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional kali ini sebaiknya kita meningkatkan kerukunan antarwarga, antaretnis, antarbu-daya, dan antaragama untuk menuju tercapainya cita-cita bangsa. q - k. (2915-2011).
*) Prof Dr Ki Supriyoko SDU MPd, Pengasuh Pesantren Ar-Raudhah dan
Pembina Sekolah Unggulan Insan Cendekia Yogyakarta.
Sumber :http://www.kr.co.id

Tidak ada komentar: