Senin, 05 Desember 2011

Bilang apa saza

Beberapa artikel yang saya baca hari ini membuat saya terus berfikir apakah saya sudah menjadi orang pandai memanfaatkan waktu, memanfaatkan peluang kretivitas, memanfaatkan kecendrungan hal positif disekitar, dan saya tidak tau saya berada dimana, saya benar-benar sedang berjalan mencari arah dan tujuan walaupun semua tujuan itu belum bisa saya temukan, saya terkadang sibuk dengan urusan kuliah, tugas yang menumpuk dari semua mata kuliah, kemudian tugas besar di akhir semester yang  sedang menuggu, karena sampai sekarang tugas itu belum disentuh juga, saya bahkan sangat malas untuk memulainya, dan terkadang saya malu dengan semua motivasi-motivasi yang saya baca bahwa saya tak pandai memulai sesuatu, saya sadar akan kelemahan saya, tidak pandai memanfaatkan waktu, saya sudah berusaha, entah dimana lagi letak kesalahan itu, saya ingin sekali mengikuti gerak-gerik para motivator yang setiap hari saya baca artikela mereka, setiap hari saya share untuk blog saya dan berbagi dengan yang lain, dan walhasil orang yang mendapat motivator itu malah bisa merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, tapi saya tidak, saya tetap pada pendirian saya, sulit sekali tuk ikuti jalan fikir mereka, berubahlah menjadi yang lebih baik lagi, mengerti denga posisi yang sedang saya pegang,

The Raid - Film Indonesia yang Mengguncang Dunia


Penulis : Tim AndrieWongso



Menempatkan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri tidak gampang. Upaya ini sudah beruntun dilakukan dengan sejumlah kebijakan. Terakhir dengan pengenaan pajak impor yang dirasa cukup tinggi untuk praktisi importir film sehingga mengundang protes. Namun upaya itu belum juga berhasil karena meski jumlah film impor berkurang, penonton bioskop tak juga beralih memilih film Indonesia sebagai hiburan utamanya.
Konon masalahnya karena film-film lokal masih dianggap belum bisa bersaing kualitasnya dengan film impor sekelas film Hollywwod. Oleh karena itu mendengar film The Raid (Serbuan Maut) mendapat sambutan luar biasa di Hollywood (AS), Kanada, dan negara-negara lainnya, ibarat setetes air penghilang dahaga. Sekaligus ini memberi gambaran bahwa sebenarnya film Indonesia jika digarap intens bisa "menjual" di pasar dunia. Tentu saja pada akhirnya ikut mengharumkan nama Indonesia di percaturan dunia seni internasional.