Penulis : Tim AndrieWongso
Menempatkan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri
sendiri tidak gampang. Upaya ini sudah beruntun dilakukan dengan
sejumlah kebijakan. Terakhir dengan pengenaan pajak impor yang dirasa
cukup tinggi untuk praktisi importir film sehingga mengundang protes.
Namun upaya itu belum juga berhasil karena meski jumlah film impor
berkurang, penonton bioskop tak juga beralih memilih film Indonesia
sebagai hiburan utamanya.
Konon masalahnya karena film-film lokal masih dianggap belum bisa
bersaing kualitasnya dengan film impor sekelas film Hollywwod. Oleh
karena itu mendengar film The Raid (Serbuan Maut)
mendapat sambutan luar biasa di Hollywood (AS), Kanada, dan
negara-negara lainnya, ibarat setetes air penghilang dahaga. Sekaligus
ini memberi gambaran bahwa sebenarnya film Indonesia jika digarap intens
bisa "menjual" di pasar dunia. Tentu saja pada akhirnya ikut
mengharumkan nama Indonesia di percaturan dunia seni internasional.
Film ini sebenarnya sederhana kalau dilihat dari sisi tema. Setting-nya
berlokasi di daerah kumuh di Jakarta. Diceritakan bahwa sebuah pasukan
elit (di Amerika disebut sebagai SWAT) mendapat tugas untuk menyerbu
markas penjahat untuk meringkus gembong kriminal pengedar narkoba yang
berada di sebuah gedung bertingkat.
Mengetahui sedang diincar, kelompok penjahat narkoba itu membuat
perangkap agar mereka bisa kabur sambil menjebak pasukan tersebut.
Pasukan elit itu terperangkap di lantai enam. Tentu saja mereka tak bisa
tinggal diam. Demi menyelesaikan misinya mereka pun berusaha mencari
cara agar bisa keluar dan menyelesaikan tugasnya.
Tema itu menjadi menarik karena digarap dengan model sinematografi
"standar" Hollywood. Sehingga meski tema terasa biasa-biasa saja, secara film keseluruhan The Raid amat menarik.
Pengambilan gambarnya sangat menakjubkan. Ketegangan demi ketegangan
terjaga ritmenya. Penghargaan yang diraih di Festival Film Toronto 2011
untuk kategori "The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award"
menjadi salah satu bukti betapa film ini layak diputar di
bioskop-bioskop dunia. Setelah itu sejumlah negara siap memutarnya
seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang,
Australia, dan sebagainya.
Liputan media dunia pun memberi kesan lain yang membanggakan. Tengok laporan Hollywoodreporter.com: "Toronto 2011: Hot Indonesian Action Movie 'The Raid' Sells Out the World (Exclusive)".
Disebutkan, film itu sudah terjual hak edarnya di kawasan Rusia,
Skandinavia, Benelux (Belanda, Belgia, Luxemburg), Islandia, dan Italia.
Juga untuk kawasan Amerika Latin, Asia Selatan termasuk India, dan
Korea Selatan. Pendeknya, film itu begitu laris sampai-sampai Gareth
Evans, sang sutradara dan penulisnya, terus diburu agen Hollywood.
Bahkan media lain menyebutkan, Hollywood sudah siap menggarap ulang film itu dengan versi Hollywood.
Film ini digarap Garets Evans, sutradara asal Inggris yang sekarang
menetap di Indonesia dan banyak menggarap film-film Indonesia. The Raid
dibintangi oleh Doni Alamsyah, Ananda George, Yayan Ruhian, Ray
Sahetapy, Verdi Solaiman, dan Joe Taslim.
Meski sudah mengguncang dunia The Raid baru akan diputar di Indonesia pada Januari 2012.
Pada saat itu Indonesia bisa melihat perbedaan film ini dibanding
film-film Indonesia yang sekarang banyak beredar di bioskop-bioskop
Tanah Air yang didominasi film tentang pocong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar