Sepemahaman banyak orang mengenai pendidikan di perguruan
tinggi, yakni sebagai wadah untuk menyiapkan seseorang sebelum memasuki
dunia sosial dan pekerjaan sebagai manusia yang produktif. Sayangnya
fakta berkata lain.
Kurang lebih 750,000 lulusan sarjana atau diploma di Indonesia
menganggur, tentu saja hal ini tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa temuan lain justru mengatakan pekerja rata-rata adalah lulusan
SD, SMP dan SMA, atau sederajat.
Dikutip dari Kompas, dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang
sekarang bekerja, lebih dari 55 juta adalah lulusan SD! Sedangkan
pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta
orang. Jadi bisa dikatakan bahwa setelah lulus mengenyam perguruan
tinggi maka gelar “pengangguran” akan menanti.
Oleh karena itu, jika saja pemahaman dasar dimana pendidikan
merupakan bekal untuk bekerja di sebuah perusahaan bisa dikembalikan ke
makna awalnya, dimana pendidikan adalah bekal ilmu untuk hidup, mungkin
terapannya bisa lebih menguntungkan.
Jadi setiap lulusan dapat berusaha sendiri atau bekerjasama dengan rekannya untuk membangun lahan usaha. Saat lahan usaha itu berkembang maka selain keuntungan laba, ini akan pula membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan secara umum dapat memajukan perekonomian masyarakat.
Ada pendapat dari seseorang teman yang mengatakan “pengangguran itu
dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja” namun satu
hal dasar yang harus diimbangi adalah dengan usaha.
Jika kita mengaitkan kepada suatu lembaga pendidikan sebagai usaha
membantu peserta didiknya untuk mendapatkan perkerjaan nyatanya tidak
semulus yang diharapkan. Pendidikan yang katanya bertaraf internasional
tidak menjamin seseorang akan terlibat “aksi” secara internasional
nantinya.
Intinya, pendidikan tidak selalu menjamin seseorang akan menjadi kaya dan tidak menganggur.
Yang diperlukan adalah beberapa cara yang lebih praktis, efisien dan
dapat memacu kreativitas. Jika asumsi yang melekat selama ini adalah
ingin jadi pegawai maka yang dibutuhkan adalah sarana untuk menjadikan
orang tersebut mampu dan berkompeten di suatu bidang yang akan dibidik.
Caranya, misal saja, adalah dengan membentuk wadah pelatihan singkat
dan tepat yang bahkan mungkin tidak ditemui di lembaga pendidikan. Atau
mungkin lembaga pendidikan dapat membentuk sistem yang dapat memacu
kreativitas sehingga nantinya akan memunculkan orang-orang yang mampu
menjadi pioner dan memacu adrenalin perkembangan sebuah bangsa.
Ironis memang yang akhirnya kita harus mulai membenahi sebuah sistem
pendidikan sekaligus paradigma yang telah melekat di sebagian diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar