Selasa, 11 Oktober 2011

Sarjana NGANGGUR!!!


"Sarjana Nganggur" membanjiri Tanah Air
Sepemahaman banyak orang mengenai pendidikan di perguruan tinggi, yakni sebagai wadah untuk menyiapkan seseorang sebelum memasuki dunia sosial dan pekerjaan sebagai manusia yang produktif. Sayangnya fakta berkata lain.
Kurang lebih 750,000 lulusan sarjana atau diploma di Indonesia menganggur, tentu saja hal ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa temuan lain justru mengatakan pekerja rata-rata adalah lulusan SD, SMP dan SMA, atau sederajat.
Dikutip dari Kompas, dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta adalah lulusan SD! Sedangkan pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.  Jadi bisa dikatakan bahwa setelah lulus mengenyam perguruan tinggi maka gelar “pengangguran” akan menanti.
Oleh karena itu, jika saja pemahaman dasar dimana pendidikan merupakan bekal untuk bekerja di sebuah perusahaan bisa dikembalikan ke makna awalnya, dimana pendidikan adalah bekal ilmu untuk hidup, mungkin terapannya bisa lebih menguntungkan.

Jadi setiap lulusan dapat berusaha sendiri atau bekerjasama dengan rekannya untuk membangun lahan usaha.  Saat lahan usaha itu berkembang maka selain keuntungan laba, ini akan pula membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan secara umum dapat memajukan perekonomian masyarakat.
Ada pendapat dari seseorang teman yang mengatakan “pengangguran itu dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja” namun satu hal dasar yang harus diimbangi adalah dengan usaha.
Jika kita mengaitkan kepada suatu lembaga pendidikan sebagai usaha membantu peserta didiknya untuk mendapatkan perkerjaan nyatanya tidak semulus yang diharapkan.  Pendidikan yang katanya bertaraf internasional tidak menjamin seseorang akan terlibat “aksi” secara internasional nantinya.
Intinya, pendidikan tidak selalu menjamin seseorang akan menjadi kaya dan tidak menganggur.
Yang diperlukan adalah beberapa cara yang lebih praktis, efisien dan dapat memacu kreativitas.  Jika asumsi yang melekat selama ini adalah ingin jadi pegawai maka yang dibutuhkan adalah sarana untuk menjadikan orang tersebut mampu dan berkompeten di suatu bidang yang akan dibidik.
Caranya, misal saja, adalah dengan membentuk wadah pelatihan singkat dan tepat yang bahkan mungkin tidak ditemui di lembaga pendidikan.  Atau mungkin lembaga pendidikan dapat membentuk sistem yang dapat memacu kreativitas sehingga nantinya akan memunculkan orang-orang yang mampu menjadi pioner dan memacu adrenalin perkembangan sebuah bangsa.
Ironis memang yang akhirnya kita harus mulai membenahi sebuah sistem pendidikan sekaligus paradigma yang telah melekat di sebagian diri kita.

Tidak ada komentar: