Saya Lilis Suriani, Saya Seorang Mahasiswa Universitas Darwan Ali Yayasan Wijaya Kesuma Jurusan Fakultas Ilmu Komputer. Saya mencoba menulis artikel ini dengan berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi di sekeliling kita, yang saya lebih prioritaskan tentunya masalah pembangunan Pendidikan di Kabupaten Kotim. Saya tidak tau dan tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang difikirkan Pemerintah Daerah menanggapi Pendidikan, Karena saya hanya Mahasisswa biasa yang tidak mempunyai hak apa2 untuk mengatur kinerja pemerintah daerah, tapi melalui situs pribadi ini saya ingin sampaikan sebagai jeritan seorang Rakyat kecil melihat situasi pendidikan di Dearah Saya.
Seringkali saat saya pulang dari mengikuti materi kuliah, saya menemukan beberapa anak jalanan yang dengan riangnya sedang menjual koran, dengan bermodal tampang memelas dan pakaian yang lusuh, mereka menemui para pengendara yang kebetulan melintas dan berhenti di Traffic Light. Dengan suara nyaring Mereke meneriakkan "Koran... Korann.." Saya sangat miris melihat kondisi ini, mereka tanpa merasa lelah apalagi mengeluh, karena mengeluhpun mungkin tak akan ada yang mendengarkan, dengan keringat menetes disetiap barisan urat pipinya, beberapa pengendara enggan membeli koran-koran itu, bahkan ada juga yang enggan menoleh ketubuh anak-anak itu. pada suatu kali ketika saya sedang mengkuti Bhakti Sosial Dalam rangka penanggulangan Bencana Alam beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya pada salah seorang anak gadis yang sedang serius menyodorkan koran kepengendara sepeda motor. "Kalian nggak sekolah ya?" Karena kebetulan saat itu adalah waktunya anak-anak seumuran mereka duduk dibangku sekolah dan mendengarkan materi yang diberikan, namun tidak denga mereka,"Nggak kak" Jawab mereka tanpa malu.
"Kenapa nggak Sekolah?" Sekedar ingin tau kemudian saya tanya lagi alasannya.
"Gak ada biaya" Ia menjawab lagi dengan singkat.
"Memangnya kamu seharusnya kelas berapa?"
"Udah Lulus SD, tapi karena Bapak sama Ibu saya gak punya uang, ya saya gak melanjutkan lagi"Jawabnya dengan gaya tetap menjajakan korannya, ia terlihat sangat cuek. Di depannya sebuah Mobil warna hitam, kemudian menjulurkan selembar uang 5 ribuan, dan kemudian menerima koran tadi.
"Kamu setiap hari ya kesini?"
"Iya,"
"Kepengen sekolah nggak?"
"Penge banget"
"Pernah minta sama orang tua nggak kalo kamu pengen sekolah"
"Sering, tapi ya, mau gimana lagi"
Aku berfikir, bagaimana kalau aku mempunyai nasib yang sama seperti anak ini?
Sejenak Aku lupa kalo aku sedang ikut Bhakti Sosial, kalau saja tidak ada salah satu teman yang Menyeru.
Sebenarnya saya masih ingin bertanya jauh lebih banyak lagi dengan anak itu, saya tau, pasti perasaannya sangat sedih,
Apa yang baru saja saya ilustrasikan tentu membuat kita tersentuh, betapa tidak, didaerah saya, banyak sekali sekolah-sekolah yang dengan bangganya menggembar-gemborkan kesuksesan sebuah sekolah dalam mencapai standar Sekolah bermutu Internasional. pemerintah dibuat Tertidur dengan berita-berita itu, baik sekali sekiranya beberapa sekolah mendapatkan penghargaan seperti itu, namun alangkah lebih baik lagi jika dalam masa pencapaian prestasi itu mereka melibatkan dan memasukan beberapa anak-anak tidak mampu untuk ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.
Seharusnya Pemerintah bisa kritis menanggapi hal ini, tidak mungkin pemerintah tidak melihat fenomena-fenomena yang seperti ini.
Karena pada dasarnya berawal dari anak-anak itulah pemerintah bisa meningkatkan kemajuan Pendidikan yang dengan sendirinya nanti mereka pasti akan berkembang untuk memajukan pembangunan dibidang lainnya.
Inilah yang seharusnya di kritisi dan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah Daerah maupun Provinsi. Prestasi yang begitu dibanggakan disetiap sekolah pada dasarnya tidak akan berpengaruh pada rakyat kecil, karena nantinya mereka yang sudah berhasil akan melanjutkan lagi kedaerah yang lebih berkembang.
lalu bagaimana nasib pendidikan anak-anak asli daerah kita sendiri?
Pada saat beberapa sekolah sedang berpesta menikmati keberhasilan pencapaian mereka, disisi lain masih banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian, tidak ada salahnya jika beberapa sekolah tersebut kemudian menampung anak-anak terlantar untuk ikut mengecap bangku pendidikan.
Kapan kondisi anak-anak indonesia yang kekurangan Pendidikan dan Ilmu yang seharusnya mereka dapatkan akan berakhir, kemana janji pemerintah yang katanya akan memelihara fakir miskin dan anak2 terlantar?
Semua itu sepertinya hanya akan menjadi sebuah harapan hampa yang akan terus membayangi hidup kinerja pemerintah dengan semua janji-janjinya.
Terkecuali mereka membuat suatu perubahan, perubahan yang dimulai dari hal terkecil seperti membiayai Pendidikan Anak-anak terlantar, karena sesungguhnya merekalah aset Negara kita yang nantinya akan berperan dalam pembangunan Negara.
"Kenapa nggak Sekolah?" Sekedar ingin tau kemudian saya tanya lagi alasannya.
"Gak ada biaya" Ia menjawab lagi dengan singkat.
"Memangnya kamu seharusnya kelas berapa?"
"Udah Lulus SD, tapi karena Bapak sama Ibu saya gak punya uang, ya saya gak melanjutkan lagi"Jawabnya dengan gaya tetap menjajakan korannya, ia terlihat sangat cuek. Di depannya sebuah Mobil warna hitam, kemudian menjulurkan selembar uang 5 ribuan, dan kemudian menerima koran tadi.
"Kamu setiap hari ya kesini?"
"Iya,"
"Kepengen sekolah nggak?"
"Penge banget"
"Pernah minta sama orang tua nggak kalo kamu pengen sekolah"
"Sering, tapi ya, mau gimana lagi"
Aku berfikir, bagaimana kalau aku mempunyai nasib yang sama seperti anak ini?
Sejenak Aku lupa kalo aku sedang ikut Bhakti Sosial, kalau saja tidak ada salah satu teman yang Menyeru.
Sebenarnya saya masih ingin bertanya jauh lebih banyak lagi dengan anak itu, saya tau, pasti perasaannya sangat sedih,
Apa yang baru saja saya ilustrasikan tentu membuat kita tersentuh, betapa tidak, didaerah saya, banyak sekali sekolah-sekolah yang dengan bangganya menggembar-gemborkan kesuksesan sebuah sekolah dalam mencapai standar Sekolah bermutu Internasional. pemerintah dibuat Tertidur dengan berita-berita itu, baik sekali sekiranya beberapa sekolah mendapatkan penghargaan seperti itu, namun alangkah lebih baik lagi jika dalam masa pencapaian prestasi itu mereka melibatkan dan memasukan beberapa anak-anak tidak mampu untuk ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.
Seharusnya Pemerintah bisa kritis menanggapi hal ini, tidak mungkin pemerintah tidak melihat fenomena-fenomena yang seperti ini.
Karena pada dasarnya berawal dari anak-anak itulah pemerintah bisa meningkatkan kemajuan Pendidikan yang dengan sendirinya nanti mereka pasti akan berkembang untuk memajukan pembangunan dibidang lainnya.
Inilah yang seharusnya di kritisi dan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah Daerah maupun Provinsi. Prestasi yang begitu dibanggakan disetiap sekolah pada dasarnya tidak akan berpengaruh pada rakyat kecil, karena nantinya mereka yang sudah berhasil akan melanjutkan lagi kedaerah yang lebih berkembang.
lalu bagaimana nasib pendidikan anak-anak asli daerah kita sendiri?
Pada saat beberapa sekolah sedang berpesta menikmati keberhasilan pencapaian mereka, disisi lain masih banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian, tidak ada salahnya jika beberapa sekolah tersebut kemudian menampung anak-anak terlantar untuk ikut mengecap bangku pendidikan.
Kapan kondisi anak-anak indonesia yang kekurangan Pendidikan dan Ilmu yang seharusnya mereka dapatkan akan berakhir, kemana janji pemerintah yang katanya akan memelihara fakir miskin dan anak2 terlantar?
Semua itu sepertinya hanya akan menjadi sebuah harapan hampa yang akan terus membayangi hidup kinerja pemerintah dengan semua janji-janjinya.
Terkecuali mereka membuat suatu perubahan, perubahan yang dimulai dari hal terkecil seperti membiayai Pendidikan Anak-anak terlantar, karena sesungguhnya merekalah aset Negara kita yang nantinya akan berperan dalam pembangunan Negara.
1 komentar:
"Perlu Pembenahan lagi,,,
dan jangan cepat menyerah...
Posting Komentar